Cerpen – Jelita dan Belalang by Latatu Nandemar

Cerpen Jelita dan Belalang

Keadaan mata itu membuat Jelita menjadi bahan hinaan teman-temannya di sekolah. Jelita dijuluki Si Mata Kucing, dan itu membuat dirinya tidak nyaman. Akhirnya Jelita tidak mau lagi berangkat ke sekolah.

Ia juga tak lagi mau bermain dengan teman-teman di lingkungan sekitar rumahnya. Sejak hinaan demi hinaan itu muncul, Jelita hanya bermain di halaman rumah bersama belalang-belalang liar yang entah bagaimana bisa begitu jinak kepadanya.

Cerpen – Jelita dan Belalang by Latatu Nandemar

“Nak, sini. Kita akan berfoto dulu dengan Pak Heru!”

Suara dengan nada sukacita keluar dari lisan ibu Jelita yang saat itu sedang duduk bersama Ayah Jelita. Ditemani seorang tamu yang memakai seragam lembaga sosial di lantai teras depan, beralaskan tikar pandan yang telah koyak hampir di setiap bagian.

Si mungil Jelita berbalik, mendatangi asal suara dan duduk di pangkuan ibunya. “Kami sangat berterima kasih. Seperti yang Pak Heru lihat, kami adalah keluarga yang miskin dan kurang berpendidikan. Jadi kami tidak paham dengan urusan administrasi dari bantuan yang Bapak tawarkan untuk pengobatan Jelita, anak kami ini.”

Sosok lelaki berbadan ramping dan berpenampilan rapi yang dipanggil Pak Heru itu mengangguk maklum. “Biar nanti saya yang meng-handle semua urusan itu, Pak. Yang terpenting adalah Jelita bisa kembali seperti sediakala.”

Jelita tenggelam dalam kepolosannya. Dia tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi dia bisa merasakan kebahagiaan orang tuanya pada saat itu.

“Kita berdiri dulu untuk ambil gambar bersama ya, Pak.” Pak Heru dengan sopan meminta semuanya berdiri. Setelah selesai mengambil gambar dari berbagai sudut, terutama pada kondisi sakit mata Jelita dan keadaan rumah, Pak Heru pamit dan berjanji akan kembali untuk memberi kabar selanjutnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn