
Hingga akhirnya, pada bulan ketiga, “Anak kita pergi, Bu.” Ayah Jelita memberi kabar kepada istrinya yang tengah tertidur karena lelah di lorong Rumah Sakit. Tubuh mungilnya tak sanggup menahan rasa sakit. Ibu Jelita tak sanggup menahan tangis, begitu juga dengan sang Ayah. Namun, mereka pasrah.
Cerpen – Jelita dan Belalang by Latatu Nandemar
Mereka telah lupa dengan Pak Heru, yang sudah menjanjikan sejumlah bantuan dana untuk biaya pengobatan Jelita, yang hingga saat kematian menjemput si cantik itu, ia masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sungguh menakjubkan, ratusan belalang yang selama ini selalu menemani dan menghibur Jelita di halaman rumah kini tidak tampak lagi. Mereka berpindah dan banyak berhinggapan di sekitaran makamnya yang tenang dan teduh. Seakan ingin terus menemani gadis kecil itu.
Artikel yang sesuai:
Selang dua hari seusai pemakaman Jelita, Pak Heru tengah berada di ruang praktik dokter spesialis mata. Dia mengeluhkan matanya yang terus menerus sakit luar biasa. Sampai-sampai seakan bola mata kanannya itu mendesak ingin keluar dari rongganya.
Semua itu mulai dirasakan Pak Heru ketika kemarin sore dia berkendara dengan motor matiknya dalam perjalanan pulang. Ada seekor belalang menerjang matanya. Rasanya sakit luar biasa. Sepertinya belalang itu meninggalkan luka serius pada bola mata Pak Heru. Dia memang selalu membiarkan kaca helm-nya terbuka setiap berkendara.
Penulis: @elnandemar






