
“M-maaf Kia, harusnya sikap ku gak seperti itu ke kamu”
“Kau tau? Aku sudah memaafkanmu. Yah, memang sedikit sakit. Tapi aku berusaha untuk memaafkanmu” lagi-lagi Wira hanya terdiam di tempatnya. Ku lihat ia sedikit murung sekarang. Aku berhenti tepat di depan pintu kelas.
“Tunggu apalagi? Kita punya pertandingan yang harus kita selesaikan. Ayo keluar kalau peranmu tidak mau digantikan” ajakku seraya berdiri menghadap Wira. Aku bisa melihat teman-teman timku mengawasiku dari kejauhan.
Wira mengusap wajahnya lalu menyusulku. “Oiya maafkan aku tentang hidungmu itu. Sekarang hidungmu jadi merah karenaku” tambahku. Wira langsung memegang hidungnya dan tersenyum kecil.
“Tidak apa. Itu kan teguran atas sikapku belakangan ini. Ayo bertanding, tim siapa yang kalah harus mentraktir es jeruk di kantin” Wira berjalan santai melewati ku dan keluar kelas. Secara spontan aku memukul punggung Wira.
Artikel yang sesuai:
Pertandingan babak kedua kini dimulai. Aku dan Wira bermain dengan serius kembali. Kedudukan kedua tim terus turut menyusul. Kini, pertandingan tim Garuda dan tim Angkasa sudah memakan waktu 25 menit dengan kedudukan 22-24.
Giliranku untuk melakukan serve. Aku melakukan serve bawah andalanku saat bertanding di tournament antar sekolah. Wira menerima bolaku dengan baik walau sedikit meleset. Desta mengumpan bola itu ke Hera. Hera langsung meng-smash bola dari Desta. Namun bola itu dapat dihentikan oleh Whisnu dan Arvan.
Sehingga pemenang dari pertandingan babak 1 dan 2 adalah timku, tim Angkasa. Aku melihat Whisnu, Kaka dan Arvan cukup bahagia karena mereka baru pertama kali menang dalam pertandingan. Setelahnya, terdapat sesi bersalaman dengan tim lawan sebagai tanda perdamaian. Saat aku bersalaman dengan Wira, dia berbisik padaku. “Ayo aku yang mentraktirmu kali ini. Permainanmu cukup bagus untuk hari ini”
Aku terkejut dan senang dalam waktu yang bersamaan. Bukan tanpa sebab, nada bicara Wira sudah tidak sedingin sebelumnya. Ya aku juga senang sih dia akan mentraktirku minuman. Sebelum foto bersama, Dirga mengajak Tio untuk ikut foto bersama tim. Karena pada dasarnya Tio juga tetap anggota tim kami. Setelah sesi berfoto, Wira langsung mengajakku ke kantin.
Aku benar benar senang, timku menang sehingga bisa melanjutkan pertandingan semi final minggu depan dan aku bisa akrab kembali dengan sahabatku, Wira. Aku merasa benar-benar beruntung hari ini.
“Ayo Wira, traktir aku es jeruk kantin. Besok aku akan mentraktirmu es cappucino kalau aku menang di semifinal”
[Conflict inspired by true story]
Penulis: Kayla Bilqis






