Pengertian Senandika: Bukan Sekedar Ungkapan dari Tokoh dengan Dirinya Sendiri

Pengertian Senandika: Bukan Sekedar Ungkapan dari Tokoh untuk Dirinya Sendiri

Senandika, apa yang terlintas di benakmu jika mendengar kata tersebut? Apakah yang terpikirkan di benakmu adalah seorang nama tokoh film dari sebuah adaptasi novel Garis Waktu, dengan judul yang sama yakni film Garis Waktu? Faktanya, novel Garis Waktu merupakan salah satu contoh dari bentuk karya sastra senandika ini, loh!

Bentuk karya sastra ini memang tidak sepopuler cerpen, novel, pantun, maupun puisi. Mungkin banyak juga di antara kalian yang tidak menyangka bahwa senandika ini adalah salah satu bentuk sastra.

Pengertian Senandika: Bukan Sekedar Ungkapan dari Tokoh dengan Dirinya Sendiri

Nah, untuk menjawab keresahan kalian terhadap apa itu senandika, kami akan memaparkannya secara lengkap pada artikel kali ini. Yuk disimak dan semoga bisa menjadi bahan referensi untuk kamu terus berkarya, ya!

Pengertian Senandika

Dalam artikel ini kami akan membahas tentang apa itu senandika melalui dua cara, yaitu:

Secara harfiah

Dari asal katanya atau secara harfiah senandika dan disebut juga dengan solilokui yang berasal dari bahasa Latin soliloquy. Soliloquy ini terdiri dari dua kata, yaitu:

Solus: Sendirian

Loqui: Berbicara

Apabila digabungkan menjadi berbicara sendirian. Lalu apakah sama dengan monolog? Bisa dikatakan bahwa senandika adalah kata atau ucapan yang secara tradisional kita gunakan untuk merujuk pada monolog yang disampaikan saat karakter sedang sendirian.

Perlu kamu ketahui ya, yang dimaksud dengan karakter ini tidak hanya mengacu pada tokoh dalam sebuah pertunjukan drama atau teater. Seiring dengan perkembangan dunia sastra, senandika juga telah muncul di novel, cerpen, dan karya sastra berbentuk tulis lainnya. Jadi yang dimaksud dalam karakter di sini bisa untuk tokoh di novel, cerpen, maupun tokoh di sebuah puisi.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Berdasarkan KBBI kata senandika memiliki makna sebagai berikut ini:

wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar

Jelas ya, dalam KBBI diterangkan bahwa senandika ini berfungsi untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Jadi, ini salah satu bukti bahwa senandika tidak hanya dipakai untuk sebuah pertunjukan teater, tetapi juga bisa dalam susastra novel, cerpen, maupun puisi.

Apakah Senandika hanya Sebuah Ungkapan Tokoh dengan Dirinya Sendiri?

Senandika tidak sekedar ucapan yang diucapkan oleh tokoh dengan dirinya sendiri. Tidak hanya kata bualan atau kalimat tidak penting, semisal ucapan, “Aku hari ini ingin makan apa, ya”.

Tidak seperti itu yang diucapkan dengan diri tokoh sendiri! Catat! Ungkapan yang diucapkan ini memiliki nilai yang berarti untuk sebuah karya sastra. Bisa berupa ungkapan konflik batin, perasaan, firasat dan lain sebagainya.

Melalui senandika tersebut pembaca akan merasakan rasa atau seakan-akan memiliki akses masuk ke keadaan batin karakter yang sesungguhnya. Dengan adanya senandika dalam sebuah karya, kamu menjadi lebih memiliki koneksi kepada tokoh tersebut.

Kamu akan bisa merasakan bagaimana kondisi batin yang dialami karakter tokoh tersebut. Sebab, apa yang diucapkan tokoh dengan dirinya sendiri adalah cerminan yang sesungguhnya atau kondisi dirinya yang sesungguhnya. Dengan kata lain, senandika tersebut adalah sebuah kejujuran dari seorang tokoh.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan pengertian senandika adalah ungkapan atau ucapan yang dilakukan oleh tokoh dengan dirinya sendiri. Bukan sekedar ucapan biasa, tetapi ucapan yang penuh kejujuran dan dapat menggambarkan konflik batin yang sedang dirasakan tokoh dalam sebuah susastra.

Karna sebuah susastra atau karya sastra maka pemilihan diksinya itu tidak sembarang. Melainkan menggunakan diksi indah, bisa dengan metafora yang nantinya akan membuat orang yang membaca seakan masuk atau terkoneksi dengan apa yang dirasakan oleh karakter tokoh tersebut.

Dengan kata lain pemilihan diksi dan kejujuran dari senandika akan mampu menggetarkan hati atau perasaan yang membaca atau mendengarnya. Jadi, pastikan ketika kamu membuat senandika pertimbangan pemilihan diksi dan tulisan dengan sepenuh hati.

Tinggalkan Komentar