
Senyumku terukir indah. Air mata ini rasanya mengalahkan asin dari lautan. Udara dingin malam ini pun tak menyentuh kita. Dikalahkan oleh hangat pelukan satu sama lain.
Dewa laut mungkin merestui kita. Terbukti dari alunan indah ombak malam ini. Tak ada yang bisa mengganggu kisah kita. Selamanya.
Cerpen – Sean Andreas by Assyifa Putri
Rasanya semua tak lagi sama saat kau memberikan benda bulat mungil dengan permata ke jari manisku. Mewah bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan betapa indahnya cincin permata itu.
Tak ada kata yang bisa mendeskripsikan dirimu dengan tepat, Sean. Aku lebih dari bahagia. Karena aku adalah bahagia itu sendiri.
Hari yang kita tunggu pun tiba. Namun, gaun putih yang kukenakan ini kehilangan keindahannya kala aku mendengar kabar yang disampaikan orang tuamu, Sean.
Artikel yang sesuai:
Aku kehilangan gairah untuk berlari disaat memerlukannya. Saat ini, aku perlu berlari kepadamu. Akan tetapi kakiku menolak.
Rasanya aku telah menghabiskan kesempatan untuk berlari padamu. Selama ini, aku menyia-nyiakan kesempatan. Membuang keringat untuk berlari pada sesuatu yang tak pasti.
Sampai aku melupakanmu, Sean. Aku mengejar dunia, bukan kau. Sungguh ironi. Kau mengajariku berjalan dan berlari, tetapi membiarkanku menjelajahi dunia ini.
Sedangkan, kau hanya di sana, duduk untuk mendukung apapun yang aku lakukan. Bertepuk tangan dengan segala prestasi bodohku dengan dunia.






