Cerpen – Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa

Cerpen - Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa

“Terima kasih, ucapanmu berarti untukku, sebenarnya puisi-puisi itu aku tulis hanya ingin mengepresikan perasaan atau harapanku.”

“Berarti puisi tentang kegalauan-kegalauan cinta yang kamu buat itu jeritan dari hatimu, ya?” Berbarengan dengan gemuruh kecil dari langit yang terdengar, Aftar mulai menatapku dalam, entah apa yang dipikirannya, tapi tatapannya menenangkan hatiku.

Cerpen – Menunggu Hujan Reda by Syifa Zulfa

“Ya, bisa jadi. Aku pernah mencintai seorang pria, karna suatu masalah, aku dan dia berpisah, tapi entah kenapa aku masih belum melupakannya. Meski sakit dan menimbulkan kegalauan-kegalauan saat memikirkannya, dari sanalah, aku sering menuliskan puisi-puisi tentang kegalauan. Dengan berharap, ketika emosi itu diluapkan, hatiku lebih damai.” Aftar masih menatap mataku dengan memasang wajah seolah ingin tahu perkataanku selanjutnya.

“Walaupun sudah lama sekali dari perpisahan itu dan dia sudah memiliki sosok yang baru. Aku masih saja memikirkanya, padahal aku sudah berusaha melupakannya semampuku. Apakah itu hal yang wajar?” aku melajutkan perkataanku. Aku sesekali melirik mata Aftar yang masih mentapku, tapi tak tau mengapa aku tak mampu membalas tatapannya.

“Tentu saja, itu wajar. Proses waktu menerima kehilangan orang beda-beda. Apalagi orang tersebut memiliki ruang yang istimewa di hatimu. Asalkan saja, kamu tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihanmu itu. Aku yakin dengan berjalannya waktu kamu mampu menerima apa yang sudah terjadi.” Kali ini Aftar menghadapkan badannya ke arahku, Aftar sepertinya benar-benar tertarik untuk mendengarkanku bercerita.

“Kamu benar, Aftar. Terimakasih telah mendegarkan ku. Maaf juga karna aku malah mecurahkan hatiku kepadamu.” Tanpa disadari satu tetesan air mataku jatuh. Apakah aku terlalu emosional untuk ini? Aku malu menangis dihadapan Aftar.

Aftar memanjangkan tangga kanannya ke arah pipiku, dia mengusap pelan tetesan air mata yang jatuh tadi. Aku tersontak kaget, aku mulai memandang wajah Aftar, terlihat lengsung pipi di ujung bibirnya. Aku senang berkenalan dengannya, Aftar pendengar yang baik. Aku ingin bercerita banyak hal padanya dan aku juga ingin mendengarkan banyak hal darinya.

“Aku bisa menjadi telingamu, jika kamu ingin bercerita banyak hal. Aku siap untuk itu.” Aku menganggukkan pelan kepalaku.

Bersama hentinya tangisanku, kini rintik hujan dan gemuruh kecil dari langit sudah berhenti pula. Teh melati yang hangat kini mulai kehilangan kehangatannya. Hari ini, aku tak berniat menuliskan kegelisahan ku, tapi aku ingin mengantinya dengan menuliskan kejadian yang menenangkan hati saat aku duduk bersama Aftar tadi.

Penulis: Syifa Zulfa

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn