
Hampir genap tiga tahun kami berteman, namun belakangan ini sikap Liam sedikit berubah. Mulai dari gerak-gerik tubuhnya, tatapannya, serta sikapnya yang jauh lebih perhatian. Dari sini aku bisa mengambil kesimpulan bahwa ia menyukaiku. Bahkan, hal ini juga diperkuat dengan kedekatannya dengan Ayah.
Jika seandainya kusanggup, sudah lama kukatakan ketidak sukaanku terhadap sikapnya yang sedikit berlebihan. Namun, jika diingat lagi, aku membutuhkannya dan begitu pun sebaliknya. Aku juga sebenarnya menyukai dirinya.
Tak lama, Liam berdiri, disusul oleh Ayah. Ia menjabat tangan Ayah, lalu pergi. Dari raut wajahnya, aku tahu ia pasti sedikit kecewa. Namun, senyumnya kembali merekah saat aku menampakkan diri di ambang pintu.
Keesokannya, aku begitu terkejut saat mengetahui siapa orang yang menungguku di depan gerbang sekolah. Dentingan waktu serta hembusan napas seketika terhenti. Pemilik motor merah dan jaket hitam sedang menantiku di sana.
“Hai Gea!” Ingin sebenarnya aku segera pergi setelah membalas sapaan itu. Namun, aku malah semakin terkejut saat melihat pipi kirinya yang sedikit membiru. Aku takut sebam itu tercipta karena perkelahiannya dengan anak kelas sebelah. Katanya, Liam dan anak itu sempat berkelahi karena memperebutkan orang yang sama.
Artikel yang sesuai:
“Wajah kamu kenapa?” Segera kumendekat, melihat dengan saksama wajah yang seakan seperti kuning telur yang kelamaan direbus. Menyentuh perlahan.
“Aaaugrrr…”
Dengan wajah panik, segera kulepas sentuhan tersebut. Merasa bersalah dan berjanji akan mengobatinya.
Liam menatapku seakan kesal. Kedua alis tebalnya tersengit. Namun tak lama, wajah itu kembali tersenyum penuh kebahagiaan. Terkekeh perlahan.






