
“Gak kok, gak sakit.” Ia terkekeh lagi. “Untung aja semalam kamu gak jadi ikut, kalau gak bisa aja kamu juga ikutan dapat kayak gini.” Ia menunjuk-nunjuk wajahnya.
Kini aku yang menatapnya kesal. Merasa baru saja dipermainkan. Hari Senin yang mestinya diawali dengan semangat, kini malah kebalikannya. “Kalau gitu ngapain meringis tadi?”
Tawa Liam terhenti. Ia sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya pada telingaku, berbisik, “Abisnya, wajah kamu kalau lagi panik itu lucu dan melihatnya adalah hal yang….”
Tak sanggup kumendengar lanjutan atas perkataan Liam yang sedikit mengandung hiperbola itu. Segera kulangkahkan kedua kaki mungil ini menjauh.
Mendengar suara langkah kaki dari belakang, aku sudah menduga bahwa Liam pasti mengejarku. Segera aku berbalik, namun sayangnya Liam tak ada di sana. Merasa bersalah, aku kembali ke gerbang sekolah, ia tak ada. Aku juga mencarinya di kantin serta tempat yang sering ia kunjungi. Nihil. Ia tak ada di mana pun. Bahkan, saat jam pelajaran dimulai, batang hidungnya tak juga menampakkan diri.
Artikel yang sesuai:
Kuingat lagi kisah hidup Liam yang pernah ia ceritakan. Ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal, perusahaannya banyak, hartanya tak lagi terhitung. Namun, ia sering kali melupakan keluarganya. Jarang pulang. Yang ada di pikirannya hanyalah bekerja dan mengumpulkan uang.
Sama sepertiku, Ibu Liam telah tiada. Padahal dari ceritanya, Ibu Liam adalah tempat curahan hati satu-satunya saat itu. Sayangnya, saat hendak menghadiri acara kelulusan Liam beberapa tahun yang lalu, ibunya kecelakaan dan pada akhirnya nyawanya tak tertolong.






