
Giana pun selalu sadar bahwa dari awal memang ialah yang selalu hadir untuk hidup laki-laki itu, tapi tidak dengan sebaliknya. Gadis itu semakin menangisi hidupnya yang merasa disia-siakan.
Ia sendiri pun tak terima mendapat perlakuan seperti ini. Namun, mengingat senyum laki-laki itu semakin membuatnya menangis, ia senang dengan hangatnya kehadiran laki-laki itu walau hanya sebentar.
Cerpen – Hal yang Hilang by Kirana Amara Putri
“Berbulan-bulan kalian dekat, tapi dia tidak pernah menunjukkan pada orang bahwa kalian dekat. Berlagak masih sendirian seakan tidak ada perempuan yang sedang membersamainya. Takut menyakiti dan kehilangan bayang-bayangnya. Begitu seterusnya sampai ia mati” Nilam berdiri dari duduknya menghadap pepohonan di depannya. Ia sangat kesal dan tidak menerima sahabatnya tersakiti seperti ini.
“Dia menyembunyikanmu bagai aib yang harus ditutup dan tidak boleh diketahui orang, Na.” Lagi-lagi Giana sebenarnya sadar dengan semua hal itu, tapi logikanya tidak berjalan seharusnya ketika menghadapi hati.
“Kalau aku laki-laki dan aku punya kamu, akan kutunjukkan pada dunia bahwa perempuan seperti kamu berhasil kumiliki” Nilam memandang sahabatnya yang masih menangis, hatinya ikut merasakan sakit melihat keadaan perempuan yang ia kenal betul ini.
Artikel yang sesuai:
Di mata Nilam, Giana adalah perempuan yang nyaris sempurna. Parasnya indah, pintar, kedatangannya membawa kehangatan, senyumnya yang tenang, tatapan matanya yang sendu, dan ketulusannya yang tidak pernah diragukan.
Namun, Giana tidak bisa menghargai dan menyayangi dirinya sendiri selayaknya. Ketulusannya selalu membawa petaka untuk dirinya sendiri.






