
Ucapan Azizah menusuk pendengaran sampai hati Kanaya. Benar juga, batin Kanaya memperhatikan kembali rapor bersampul biru tua di tangannya.
Selama ini setiap penerimaan rapor, Kanaya tidak pernah bisa bernapas lega. Peringkat yang diperoleh Kanaya selalu membawa beban baru di hidupnya. Sekalipun juara satu dan menduduki peringkat umum. Orang tuanya seolah tidak pernah puas dan cukup dengan itu. Kanaya selalu disambut dengan ‘hadiah’ yang jelas berbeda dari hadiah sang juara lainnya.
“Lusa kamu mulai masuk les Matematika lagi, ya.”
“Mama sudah daftarkan kamu di klub belajar baru.”
“Kakak kamu baru saja kirim buku-buku pelajaran versi terbaru. Papa yang minta dicarikan.”
Artikel yang sesuai:
Kanaya sudah hafal dengan berbagai hadiah tersebut yang menantinya di rumah saat jadi peringkat pertama. Tapi kali ini, peringkat kedua entah hadiah apa yang ia akan terima mau atau tidak mau.
“Kamu jadi daftar?” tanya Azizah melirik kertas di tangan Kanaya. Tiba-tiba saja pandangannya seakan ditarik memperhatikan benda penuh coretan warna-warni itu.
Kanaya sudah sejak lama ingin mengikuti lomba tersebut. Tepatnya ketika Kanaya melihat pengumuman itu di mading sekolah dua bulan lalu. Semangatnya meletup-letup. Dengan mata berbinar Kanaya memberi tahu Azizah kalau dirinya akan ikut lomba menulis yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Menulis adalah hobi Kanaya. Setelah membaca tentunya. Semenjak Azizah menghadiahinya sebuah buku diary saat mereka SMP, Kanaya jadi jatuh cinta untuk terus menggores lembar demi lembar kertas dengan karya dan imajinasinya.
Puisi dan cerita pendek, Kanaya sudah berhasil menelurkan banyak karyanya. Tentu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bisa gawat kalau Kanaya ketahuan menduakan pelajaran sekolah. Walau menulis nyatanya membantu banyak dalam proses belajar Kanaya, orang tuanya tetap tidak mau memberi Kanaya peluang melakukan hal lain selain belajar dan juara kelas.
“Aku belum minta izin,” keluh Kanaya menyatukan brosur lomba dan rapor di pangkuannya.
“Harus?” tanyanya.
“Dalam lomba ini aku nggak cuma bawa nama sekolah, tapi juga nama keluarga, Zah” Terdengar nada pesimis di ujung kalimat Kanaya.
Harapannya sangat besar untuk bisa ikut dalam ajang literasi tersebut. Namun, Kanaya juga harus bersiap dengan kemungkinan terburuk dari orang tuanya.
“Butuh bantuan?” tawar Azizah. Kanaya melirik temannya itu dengan tatapan bingung. Tidak paham bantuan apa yang Azizah maksud.
Kanaya mengernyit dahi saat melihat senyum aneh Azizah. Dan itu membuat Azizah paham, temannya belum menangkap maksud tawaran tersebut.
“Aku yang bakal minta izin sama orang tua kamu. Nanti aku bilang ini perintah guru Bahasa Indonesia. Gimana?” cetus Azizah memberikan sebuah ide yang berisi kebohongan. Sontak Kanaya menggeleng. Dia sangat tidak sepakat dengan kebohongan yang Azizah rancang.
Bagaimana kalau Papa dan Mama malah datang ke sekolah buat tanya langsung ke Pak Rudi? Kanaya membatin seorang diri.
Kanaya menolak mentah-mentah ide dari Azizah. Tidak ada kebohongan yang diperbolehkan sekalipun untuk hal baik. Begitu yang selalu guru Agama mereka katakan saat ada siswa yang kedapatan bohong di kelas.






