
“Terus, gimana?” Azizah putus asa. Kedua bahu teman Kanaya itu lesu, sama tidak berdayanya dengan Kanaya. Kini mereka duduk sejajar di bangku panjang tanpa suara. Mencari ide-ide yang mungkin beterbangan di sekitar keduanya.
Bukan hanya persoalan izin mengikuti lomba yang mengusik pikiran Kanaya. Peringkatnya yang turun juga jadi beban tambahan. Walaupun bagi Kanaya itu hal biasa dan teman yang peringkat satu memang pantas mendapatkannya, tetap saja bagi orang tua Kanaya itu tidak biasa. Peringkat turun sama dengan petaka. Mencoreng nama baik keluarga kecil mereka di depan keluarga besar.
Sudah bukan rahasia lagi kalau Kanaya dijadikan lambang martabat keluarga bagi orang tuanya. Selalu mereka pamerkan di depan om, tante, kakek, nenek dan sepupu-sepupu Kanaya.
“Kamu tahu, Nay? dulu aku pikir jadi juara kelas kayak kamu itu menyenangkan. Pasti dapat hadiah banyak kalau pulang ke rumah,” Azizah berhenti sesaat. “Tapi tiap lihat kamu murung pas pembagian rapor, aku jadi sadar. Jadi juara nggak seenak itu.”
Kanaya merasakan pundaknya ditepuk lembut oleh tangan Azizah yang mungil. Ucapan temannya itu disambut anggukan pelan dari Kanaya. Memang benar adanya. Jadi juara nyatanya tidak membuat Kanaya merdeka menentukan pilihannya. Justru peringkat itu makin membelenggu Kanaya dengan ekspektasi yang kian bertumpuk dari keluarga dan orang sekitar.
Artikel yang sesuai:
“Tapi nggak juara juga jadi makin nggak enak, Zah,” ucap Kanaya lesu.
Serba salah! Jadi juara, beban. Nggak juara, juga makin beban. Kanaya menatap kembali rapor dan brosur di tangannya, “Bisakah kalian bekerja sama?” tanya gadis itu pelan penuh pengharapan.
Penulis: Ulva Yani






