Cerpen – Derita Sang Juara by Ulva Yuni

Cerpen - Derita Sang Juara

“Aku nggak yakin bakal diizinin.” gumam Kanaya dalam hati.

Matanya menatap lekat dua benda tipis di tangannya. Tangan kanan menggenggam lembaran berisi angka-angka, penilaian, lengkap dengan nomor pada bagian bawah yang disatukan dalam sampul biru tua, biasa disebut rapor. Sementara, tangan kiri Kanaya meremas ujung selembar kertas yang berisi info lomba menulis.

Cerpen – Derita Sang Juara by Ulva Yuni

Hari ini pembagian rapor kenaikan kelas, Kanaya yang duduk di kelas 11 akan segera meninggalkan kelas lamanya dan dua minggu lagi duduk di kelas berbeda. Kelas 12 sudah siap menanti penghuni baru dengan berbagai dilemanya.

Dilema memilih kuliah atau tidak? Jika kuliah harus pilih jurusan apa? kampus yang mana? kepala Kanaya bisa meledak memikirkannya. Apalagi saat mengingat keinginan orang tuanya yang selalu berbeda dengan apa yang Kanaya mau.

Di bangku panjang depan ruang kelas, Kanaya melamun. Mengabaikan sapaan dari teman-teman yang lewat. Bahkan Kanaya sampai tidak membalas senyum dari seseorang yang begitu dekat dengannya, seakan pandangan gadis itu sedang tertutup sesuatu.

“Woi!” teriak Azizah mendorong bahu Kanaya cukup kuat. Gadis itu terhuyung ke samping, namun berhasil kembali ke posisi semula, tegak, pandangan lurus ke depan.

Kanaya bergeming, tidak marah. Apalagi mengomel seperti biasanya, keusilan Azizah kali ini dia maafkan begitu saja atau malah dianggap tidak terjadi. Rasanya Kanaya berat untuk memutar wajah menatap Azizah.

Sekolah mulai sepi, siswa lainnya memilih segera pulang dengan membawa rapor beraneka warna dalam genggaman masing-masing. Sangat variatif ada yang nilainya seperti musim panen cabe hingga seperti lautan hitam, mengingat kemampuan belajar setiap siswa yang berbeda-beda pula.

Kanaya mengembuskan napas pelan setelah menghirupnya cukup panjang. Seolah karbondioksida yang keluar membawa serta beban di pundaknya. Meskipun tidak sama sekali.

“Harusnya kamu bersyukur, Nay. Juara dua. Lah, aku? Masuk lima besar aja selalu gagal.” Azizah seperti bisa membaca kegundahan yang kini meliputi Kanaya.

“Entahlah, aku bersyukur apa yang telah ku dapat. Tapi kamu tahu, kan? Orang tuaku nggak akan sama sekali,” tutur Kanaya lirih. Akhirnya dia mau bicara, setelah sekian menit mengacuhkan Azizah.

Sekarang giliran Azizah yang menarik napas panjang lalu menghembuskannya lebih cepat. Entah udara itu benar-benar sampai di paru-parunya atau tidak. Kanaya bisa mendengar suara embusan nya dengan jelas.

“Kalau soal itu aku no comment, Nay. Maaf. Aku juga bingung kalau jadi kamu. Udah jadi juara tapi tetap sulit buat bahagia.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *