
“Himawari, kamu mau kemana lagi?” wanita paruh baya dengan celemek bergambar beruang menghampir cucu perempuannya yang sedang menggunakan sepatu keds.
“Jalan – jalan.” sang nenek mengerutkan kening “Jalan – jalan kemana dan dengan siapa? Memang kamu punya teman di Hokkaido?” Rika memutar bola mata cokelat terangnya “Obachan, tenang saja. Aku sudah hampir tiga puluh tahun kenapa masih saja mengkhawatirkanku seperti waktu umurku sepuluh tahun.” nenek berkacak pinggang “Aku bukan khawatir tapi bingung karena waktu datang ke Hokkaido selama beberapa hari kamu hanya di rumah dan membantuku memasak.
Tapi sudah empat hari ini, kamu selalu pergi keluar. Kamu bertemu dengan siapa?” Rika tersenyum lebar “Bertemu Yuta.” Nenek mengerutkan kening namun berkata “Kalau begitu sarapan dulu, aku sudah buatkan..” Rika membuat tas ransel miliknya “Aku sudah membawa bento yang Obachan buatkan.”
Rika mengedipkan mata pada neneknya “Dah Obachan.” perempuan itu melambaikan tangan lalu keluar rumah dengan langkah riang. Rika melangkahkan kaki menuju taman tempat dia bertemu dengan Yuta untuk kali pertama tiga hari yang lalu. Laki – laki bertubuh tinggi kurus itu sudah berada di taman sambil memandangi anak – anak kecil yang bermain.
Tangan Rika meraih kamera yang tergantung di leher lalu mengarahkan pada Yuta yang tersenyum. “KLIK.” Rika melihat hasil jepretannya lalu tersenyum simpul.
“Hai Rika.” Yuta menyapa Rika yang dibalas “Hai Yuta. Kemana hari ini kita akan pergi?” kemarin mereka pergi ke pasar untuk melihat kehidupan penduduk Hokkaido ketika musim panas. Rika mengambil banyak foto aktivitas yang terjadi di pasar dan juga foto Yuta berinteraksi dengan beberapa pedagang.
Artikel yang sesuai:
Perkebunan Sasaki atau Sasaki No Sato adalah perkebunan bunga yang terletak di Oka-Cho, Nakafurano. Setelah berjalan kaki selama dua puluh menit dari Stasiun JR Nakafurano, kedua pasang mata Rika dibuat terpesona dengan hamparan bunga lavender berwarna ungu. Tubuhnya bergeming melihat pemandangan yang tidak mungkin dilihatnya di Tokyo.
“Jangan melamun, ayo segera berjalan dan ambil foto sebanyak – banyaknya.” ucap Yuta lalu berjalan mendahului Rika “Tunggu aku, Yuta.” kaki Rika berjalan menembus lautan bunga lavender seraya angin musim panas menyentuh permukaan kulit “Cantik sekali.” Rika langsung membidik beberapa objek dengan lensa kameranya sementara Yuta memperhatikan aktivitas yang dilakukan perempuan itu.
Mereka berjalan menelusuri kebun bunga lavender dan Rika terus mengambil beberapa foto sampai lensa kamera berhenti pada satu objek yaitu Yuta. Tangan kanan pucat laki – laki itu terangkat ke langit biru yang cerah, Rika langsung mengarahkan lensa pada Yuta “KLIK.” tidak hanya satu kali tapi beberapa kali dia mengambil foto Yuta. Baru empat hari bertemu tapi kamera Rika sudah mengambil banyak foto Yuta karena sosoknya adalah objek yang menarik dan tidak membosankan bagi lensa kamera Rika.
“Kita istirahat dulu di sini.” ajak Yuta untuk duduk di salah satu bangku, Rika mengangguk lalu duduk di samping Yuta.
Rika membuka tas ransel dan mengeluarkan kotak bekal “Aku membawa bento buatan Obachan untuk kita makan. Ayo coba.” Rika memberikan sumpit pada Yuta yang langsung diterima laki – laki itu “Terima kasih.” Rika tersenyum “Selamat makan.” ditemani dengan semilir angin dan cahaya matahari yang hangat, mereka menikmati bekal di tengah kebun bunga lavender yang cantik.
“Bagaimana kehidupan di Tokyo?” Yuta membuka percakapan, Rika menelan makanan “Ramai, padat, sibuk dan cepat.
Empat kata itu yang aku gunakan untuk menggambarkan Tokyo. Kamu sudah pernah ke Tokyo?” Yuta mengangguk “Waktu masih kecil untuk berkunjung ke rumah kolega ayahku. Apa ini kali pertama kamu datang ke Hokkaido ketika musim panas?” Rika mengangguk “Selama ini, aku baru datang ke Hokkaido sebanyak tiga kali. Dua kali ketika kakek sakit dan meninggal dunia sekitar sepuluh tahun lalu.” Yuta menegak air mineral “Apa alasanmu datang ke Hokkaido saat musim panas kali ini?”
Pertanyaan Yuta membuat Rika tersenyum kecil “Aku kehilangan gairah untuk memotret. Biasanya aku menghabiskan libur musim panas di Tokyo untuk bekerja sampingan tapi kali ini aku tidak ingin melakukannya.” Yuta meletakkan sumpit dalam kotak bekal “Mungkin kamu bosan dengan rutinitas yang ada di Tokyo.” Rika mengangguk “Salah satu alasannya adalah bosan tapi alasan lain adalah aku melihat foto yang aku ambil terasa hampa dan kosong.” Yuta menyandarkan tubuh pada kursi “Tapi kamu tetap memotret ketika di taman hari itu.” Rika menarik bibir untuk tersenyum “Karena dirimu.”






