
Yuta kembali terkejut, Rika tertawa kecil “Aku menyukai senyumanmu di taman hari itu. Aku belum pernah melihat senyuman seindah itu apalagi ketika aku mengambil fotomu, aku merasa menemukan semangat lagi untuk memotret. Ada warna baru untuk foto yang aku ambil” Rika melempar pandangan kepada Yuta yang ternyata juga menatapnya “Apa karena itu kamu memintaku untuk menemanimu berjalan – jalan di Hokkaido?” Rika mengangguk “Awalnya karena aku ingin memotretmu tapi ternyata bertemu denganmu adalah hal yang menyenangkan.” senyuman Rika mengembang seperti bunga lavender yang tengah bermekaran di kebun membuat hati Yuta terasa hangat.
Angin malam di musim panas pun terasa hangat menembus tubuh Yuta yang sedang duduk di taman belakang rumah. Jaket cardigan tipis yang membungkus tubuh kurusnya dirapatkan lebih erat lalu dia membuka handphone ketika mendengar ada satu pesan masuk. Nama Rika muncul di handphonenya.
Rika mengirimkan pesan berisi foto Yuta tersenyum lebar di tengah kebun lavender yang mereka datangi hari ini lalu di bawah foto terdapat pesan “Untuk teman yang baru kutemui empat hari lalu. Terima kasih untuk segalanya.” Yuta tersenyum lalu terdengar suara ibu “Yuta, kamu sudah meminum obatmu?” laki – laki itu teringat kalau ada hal yang dia lewatkan lalu segera masuk ke rumah “Aku lupa.”
Ibu berkacak pinggang namun segera menyiapkan tiga butir obat di piring kecil dengan air mineral. Yuta meletakkan handphone di meja lalu meminum obatnya. Ibu melirik foto di handphone “Apakah itu dirimu?” Yuta mengangguk sambil menegak air mineral “Senyummu nampak bahagia. Kamu senang bertemu dengan Rika?” Yuta menceritakan pertemuannya dengan Rika “Awalnya aku juga bingung kenapa mau menerima ajakan untuk menemaninya tapi ternyata aku juga senang bertemu dengan Rika.
”Ibu tersenyum lega “Akhirnya setelah beberapa bulan kamu mengurung dirimu, kamu bertemu dengan seseorang yang bisa membuatmu senang.” Yuta tersenyum tipis “Walaupun kami hanya akan bertemu di Obon tahun ini.” pikiran Yuta kembali diterpa sebuah kenyataan pahit.
Senyuman Rika terus mengembang ketika melihat semua foto yang diambilnya di Sasaki no Sato hari ini, bukan hanya foto hamparan bunga lavender tapi juga foto Yuta “Senyumannya indah sekali.” nenek ikut melihat foto yang ada di laptop Rika “Apakah laki – laki itu yang bernama Yuta?” Rika mengangguk “Senyumannya indah ya, Obachan?” nenek mengangguk “Aku belum pernah laki – laki itu di lingkungan ini. Apa dia tinggal di sekitar sini?” Rika mengangguk “Kalau tidak salah sekitar dua blok dari taman yang ada di ujung jalan. Keluarganya adalah pemilik toko wagashi. Obachan tidak mengenalnya?”
Artikel yang sesuai:
Nenek meminum teh hijau hangat sambil berpikir “Kalau toko wagashi yang ada di sekitar ini, pemiliknya adalah keluarga Nakamoto.” Rika berseru “Iya betul! Nama lengkap Yuta adalah Yuta Nakamoto.” nenek mengangguk paham “Aku baru tahu kalau keluarga Nakamoto mempunyai cucu laki – laki karena setahuku cucu keluarga Nakamoto adalah perempuan dan mereka bekerja di toko wagashi itu.”
Rika melirik foto Yuta “Tapi Yuta sepertinya selalu tinggal di Hokkaido. Aneh sekali kalau Obachan tidak mengenalnya.” tiba – tiba Rika penasaran akan sosok yang baru ditemuinya empat hari ini.
Setelah tidak bertemu selama tiga hari karena Yuta harus membantu toko wagashi, Yuta mengajak Rika ke sebuah tempat yang lebih istimewa yaitu Himawari No Sato atau kebun bunga matahari. Pandangan mata Rika dibuat sangat takjub dengan bunga matahari yang sudah mekar sempurna dan menampilkan warna kuning cerah. Senyuman di wajah Rika terbit membuat Yuta berbicara “Akhirnya kamu tersenyum setelah sepanjang perjalanan wajahmu muram.” Rika terkejut ternyata Yuta memperhatikannya “Aku pikir kamu marah padaku karena kita tidak bisa jalan – jalan selama tiga hari ini.” Rika tersenyum “Ah tentu saja tidak. Aku hanya kurang tidur.” Rika berbohong.
Lalu langkah kaki mereka mulai menjelajahi kebun bunga matahari itu seraya Rika mulai membidik objek menarik yang tentu saja adalah bunga matahari. Lensa kamera tidak terlepas untuk membidik bunga matahari baik dari jarak dekat atau jauh. Yuta mengikuti Rika dari belakang lalu memotret perempuan itu dengan kamera handphone, dia tersenyum tipis melihat foto Rika.
Kemudian Rika membalikan tubuh untuk mencari posisi lain ketika lensa kameranya kembali menangkap Yuta yang sedang memejamkan mata seperti sedang menikmati angin musim panas “Yuta.” ucap Rika pelan lalu dia memotret Yuta beberapa kali namun tanpa terasa ada titik air di ujung mata Rika. Perempuan itu menurunkan kamera lalu menghapus air mata namun Yuta terlanjur melihatnya.
“Kenapa kamu menangis, Rika?” Yuta menghampiri yang membuat Rika menundukkan wajah “Rika, ada apa?” sekuat tenaga perempuan itu menahan tangis “Besok malam, aku akan kembali ke Tokyo.” Yuta terkejut namun dia tetap bertanya “Apa liburan musim panasmu sudah berakhir?” Rika menggelengkan kepala “Ada project mendadak yang diadakan oleh kantor sehingga lusa pagi aku harus sudah masuk kantor.” Yuta tersenyum tipis “Jadi ini alasan kenapa wajahmu muram bukan karena kurang tidur.”
Rika mengangkat wajah sambil tertawa miris “Aku berbohong.” Yuta menghela napas panjang “Kamu sedih karena harus menyudahi liburan musim panas lebih awal?” Rika mengangguk “Selain itu aku juga sedih karena berpisah denganmu.” Yuta terkejut “Kenapa kamu sedih?” Rika berdecak kesal “Tentu saja aku sedih, kamu adalah teman liburan musim panas pertamaku.” Yuta tertawa “Kamu seperti anak kecil yang akan masuk sekolah setelah liburan musim panas, sedih berpisah dengan temannya.”
Rika memandang sekelilingnya yang penuh bunga matahari “Selain itu aku juga sedih karena harus berpisah denganmu yang seperti bunga matahari karena membuat warna cerah pada fotoku.” hati Yuta berdesir mendengar ucapan Rika, perempuan itu menatap Yuta “Rasanya aku ingin tinggal di Hokkaido agar bisa bertemu dan memotretmu setiap hari. Bertemu Yuta adalah hal yang menyenangkan.”
Tanpa jeda setelah ucapan Rika, Yuta menarik tubuh perempuan itu untuk dipeluknya. Rika sangat terkejut namun Yuta memeluk erat Rika seperti tidak kehilangan perempuan itu “Rika Himawari. Tidak hanya nama yang sama dengan bunga matahari tapi kamu juga adalah bunga matahari yang membuat pandangan mataku menjadi lebih berwarna.” Rika tersenyum lalu menepuk punggung Yuta perlahan.
Mata Yuta terbuka setelah tidur selama hampir dua belas jam karena tubuhnya kembali sakit. Yuta melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang “Sudah siang.” dia mengangkat tubuh perlahan lalu melihat amplop berwarna kuning yang ada di atas meja.
“Astaga, aku lupa harus memberikan surat.” Yuta langsung mengambil amplop kuning dan keluar kamar sampai dia bertemu dengan ayahnya di lorong “Mau kemana kamu, Yuta?” Yuta mengangguk “Aku harus pergi ke stasiun untuk mengantarkan surat.” Ayah mengerutkan kening melihat amplop di tangan Yuta “Tapi kamu sedang sakit, kemarin saja kamu pingsan di kamar.” Yuta mengingat kejadian semalam dimana tiba – tiba dia terjatuh di dapur karena tubuhnya terasa lemas untuk digerakkan tapi dia harus memberikan surat penting ini “Tapi surat ini harus diberikan karena Rika akan pulang ke Tokyo siang ini.”






