Cerpen – Bertemu Yuta by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Bertemu Yuta by Rachel Grifith Charisa Wijaya
Mendengar nama Rika, ayah menghela napas “Aku akan mengantarmu ke stasiun. Dia pulang menggunakan shinkansen kan?” Yuta mengangguk diikuti oleh anggukan ayah “Kalau begitu pakai jaketmu. Aku akan menunggumu di mobil.” Yuta tersenyum “Baik, terima kasih Otousan.” Yuta kembali ke kamar lalu mengambil jaket tebal berwarna cokelat muda. Walaupun cuaca panas tapi tubuh dinginnya harus dilindungi. Yuta mengirimkan pesan singkat pada Rika “Aku akan menemuimu di stasiun.”

Setengah jam berlalu setelah Rika menerima pesan dari Yuta yang berkata akan menemuinya di stasiun. Rika belum masuk ke peron karena masih menanti Yuta yang belum kunjung datang. Setelah menghabiskan waktu seharian kemarin, Rika merasa lebih senang dan terhibur. Dia mengambil banyak foto Yuta dan tidak lupa berfoto bersama sebagai memori bagi mereka berdua. Wajah Rika bersemu merah ketika mengingat pelukan Yuta di kebun bunga matahari, terasa hangat dan mendebarkan.

“Rika.” suara Yuta membuat wajah Rika terangkat lalu melihat Yuta berlari kecil namun ketika semakin dekat, Rika melihat wajah pucat Yuta “Ada apa dengan wajahmu? Kamu sakit?” Yuta menggelengkan kepala “Aku baik – baik saja.” lalu dia memberikan amplop kuning pada Rika “Tolong baca surat ini ketika di kereta.” Rika menerima surat itu “Surat?” Yuta mengangguk “Semalam aku membuat surat untukmu.” Yuta tersenyum yang membuat Rika ikut tersenyum “Aku rasa ini adalah musim panas terbaik selama tiga puluh tahun aku hidup.

Bertemu dengan Yuta Nakamoto adalah hal terbaik di musim panas kali ini.” hati Yuta berdebar “Himawari, terima kasih sudah menjadi bagian dari cerita hidupku yang singkat ini.” Rika mengerutkan kening mendengar ucapan Yuta namun laki – laki itu berkata “Kamu harus segera masuk peron sebentar lagi keretamu datang.” Rika mengangguk lalu mengambil tas ransel dan koper.
Ketika kaki Rika hendak melangkah, dia membalikkan tubuh lalu memeluk Yuta dengan erat “Yuta, mari bertemu lagi musim panas tahun depan.” kali ini jantung Yuta berdetak kencang.

Rika melepaskan pelukan lalu menampilkan senyuman terakhir sebelum membalikkan tubuh untuk berjalan menuju peron. Kali ini, titik air yang mencuat keluar dari mata runcing Yuta Nakamoto.

Rika Himawari, nama yang indah karena artinya bunga matahari. Aku bertemu dengan himawari sepertimu yang membuat hatiku yang lelah menjadi bersemangat. Awal pertemuan yang sedikit aneh karena kamu terus menatapku, mengambil foto bahkan menanyakan namaku. Di hari selanjutnya, kamu mengajakku untuk berjalan – jalan bersama. Kamu adalah perempuan yang cukup berani untuk melakukan itu pada laki – laki asing sepertiku.

Tapi karena keberanianmu, kita mempunyai musim panas terbaik bagi untuk diri kita masing – masing. Aku juga belum pernah menjalani musim panas seperti kali ini karena musim panas beberapa tahun ini aku habiskan untuk mengikuti kemoterapi. Ya, aku mengidap penyakit kanker darah ketika bekerja sebagai arsitek di Jerman sekitar enam tahun lalu. Saat musim panas tiba, aku selalu mengikuti kemoterapi karena di saat itu matahari bersinar hangat. Lalu tiga bulan aku pulang ke Jepang karena tubuhku sudah sangat lemah.

Sel kanker sudah menyebar cepat di seluruh tubuhku dan dokter menyatakan kalau masa hidupku hanya delapan bulan lagi. Aku sudah tidak mempunyai semangat untuk hidup sehingga terus mengurung diri di kamar. Sampai akhirnya, beberapa hari lalu aku memutuskan untuk keluar hanya sekedar duduk di taman sambil membaca buku dan saat itu kita bertemu. Pertemuan denganmu bukan skenario yang aku rancang tapi justru menjadi hal yang mengejutkan sekaligus menyenangkan bagiku. Ketika kamu berkata kalau aku memberi warna baru bagi foto yang kamu ambil begitu juga dirimu memberikan warna cerah bagi hidupku yang sebentar lagi usai. Rika, terima kasih karena sudah berani mengajakku pergi serta menikmati musim panas yang indah ini.

Aku sangat menikmati kebersamaan kita di musim panas ini karena itu jangan lupakan memori ini dan terus menjadi fotografer yang dapat memberikan warna pada hidup orang lain. -Yuta Nakamoto-
Tangan Rika bergetar hebat ketika air mata mengalir deras di wajah setelah surat itu selesai dibaca. Hati Rika terasa sesak mendapati bahwa orang asing yang baru ditemuinya sekitar seminggu lalu sedang berhadapan dengan maut “Yuta.” lirih Rika sedih. Rasa sesak memuncak menjadi kesedihan yang teramat sangat karena teringat senyuman Yuta Nakamoto.

Deretan foto terpajang rapi di dinding ruang pameran lalu pemilik foto mengulas senyuman dengan rasa sedih ketika beberapa pengunjung memuji hasil karya miliknya. Rika Himawari menjadi salah satu peserta pameran foto bertema Manusia dan Kehidupan yang diadakan di salah satu gedung pameran di Tokyo.

Rika menghadirkan karya yang dia dapatkan selama musim panas tahun lalu ketika dia berkunjung ke Hokkaido dan bertemu seseorang yang memberikan warna baru bagi fotonya. Bahkan dia memberikan judul bagi pameran foto kali ini adalah Bertemu Yuta. Ada sepuluh foto Yuta Nakamoto yang ditampilkan dalam pameran baik itu ketika dia tersenyum menatap kumpulan anak kecil, mengangkat tangan ke langit, memejamkan mata untuk menikmati angin atau ketika sedang tersenyum menatap Rika.

“Sepertinya objek fotomu adalah orang yang spesial.” ucap seorang pengunjung kepada Rika yang masih menatap foto hasil karyanya “Dia adalah orang asing tapi sangat spesial untukku.” pengunjung itu bicara lagi “Beruntung sekali laki – laki ini bertemu dengan fotografer sepertimu.” Rika mengulas senyuman setipis mungkin “Aku beruntung karena bertemu dengannya.

” Rika berjalan menjauh dari pengunjung yang mengajaknya bicara itu namun suaranya menghentikan langkah Rika “Rika Himawari.” perempuan itu menoleh lalu manik mata cokelat terang miliknya menatap lekat pria dengan mata runcing yang sedang tersenyum padanya “Hai Rika.” mata Rika mengeluarkan air mata namun dia tersenyum lebar “Bertemu lagi denganmu, Yuta.” Yuta Nakamoto dengan tubuh lebih berisi dan wajah bersemu merah berkata pada Rika “Musim panas tahun ini, kita pergi jalan – jalan kemana?” senyuman Rika semakin mengembang.

-Tamat-

Penulis: Rachel Grifith Charisa Wijaya

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn