5 Tips Menulis Cerpen Sejarah yang Perlu Diterapkan

5 Tips Menulis Cerpen Sejarah yang Perlu Diterapkan

Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu jenis karya sastra yang dapat kita temui di banyak toko buku dan perpustakaan. Sama halnya dengan novel, cerpen juga memiliki genre yang beragam, mulai dari romansa, komedi, horor, misteri, keluarga, hingga sejarah.

Menulis cerpen sejarah bukanlah pekerjaan yang mudah, penulis harus berhadapan dengan tumpukan data masa lampau. Namun, jika kita mengerjakannya dengan senang hati, karya tulis ini sama asyiknya dengan menyusun kepingan puzzle.

5 Tips Menulis Cerpen Sejarah yang Perlu Diterapkan

Melalui artikel ini, kita akan membahas lima tips ampuh menulis cerpen sejarah yang bisa penulis terapkan. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman dapat mengemas fakta menjadi sebuah cerita yang mengalir dan tidak membosankan. Penasaran apa saja tips-tips tersebut? Yuk, kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini:

1. Menjalankan Riset

Tips pertama menulis cerpen sejarah yaitu penulis harus mengumpulkan data dari berbagai sumber yang kredibel dan tepercaya. Sebab, untuk menulis genre cerpen ini kita tidak bisa asal menebak atau berimajinasi tanpa dasar yang kuat.

Riset tidak hanya untuk menunjukkan kepandaian atau wawasan, namun agar pembaca merasa informasi dalam cerpen sudah benar dan bukan karangan kosong semata. Dengan begitu, cerita yang kita tuangkan pada cerpen tampak lebih hidup dan bernyawa.

Selain membuat cerita lebih realistis, menjalankan riset sebelum menyusun naskah juga membantu penulis untuk mengembangkan ide, membangun alur cerita, dan menciptakan karakter yang lebih kompleks. Apabila kita menulis cerpen sejarah sesuai dengan peristiwa aslinya, pembaca akan semakin penasaran dan tertarik untuk membaca hingga halaman terakhir.

Jangan lupa untuk menyisipkan detail-detail kecil hasil riset, seperti jenis pakaian yang dipakai, cara berbicara, atau suasana perkotaan/pedesaan di zaman itu. Sentuhan-sentuhan kecil ini akan membuat latar di cerpen lebih autentik.

2. Jangan Memasukkan Semua Informasi

Setelah melakukan riset, kita sering kali ingin memasukkan semua temuan atau informasi yang sudah diperoleh ke dalam cerpen. Namun, kita tidak boleh menumpahkan semua data di awal cerita karena akan membuat pembaca cepat pusing dan bosan. Menulis fakta sejarah harus dilakukan secara perlahan dan natural, layaknya sebuah obrolan santai.

Langkah brilian yang dapat kita terapkan yaitu dengan menyelipkan fakta tersebut melalui aktivitas tokoh. Kita bisa memasukkannya ke dalam dialog antarkarakter, apa yang sedang dipikirkan tokoh protagonis, atau narasi yang mengalir. Dengan cara ini, pembaca akan belajar sejarah tanpa merasa sedang dipaksa membaca buku pelajaran yang tebal dan kaku.

Apabila memilih memakai narasi untuk menjelaskan fakta sejarah, usahakan tidak terlalu detail sampai ke hal-hal yang tidak perlu. Intinya, kita harus memastikan alur cerita tetap menjadi aspek utama, sementara informasi sejarah berfungsi sebagai pendukung yang mempercantik suasana dalam cerpen.

3. Menjadikan Latar sebagai Sumber Konflik

5 Tips Menulis Cerpen Sejarah yang Perlu Diterapkan

Latar dalam cerpen sejarah bukan cuma sekadar hiasan atau tempat lewat, tapi harus menjadi sumber dari konflik yang terjadi. Jika kita mengangkat kisah tentang zaman kerajaan kuno, maka masalah yang tokoh alami harus relevan dengan masa itu. Dengan kata lain, kita perlu menyelaraskan konflik dengan situasi sosial, budaya, dan teknologi yang ada pada waktu tersebut.

Sebagai contoh, kita ingin menulis kisah cinta antara seorang pemuda kaum bangsawan dengan pembantu rumah tangga. Konflik yang paling pas tentu saja perihal kelas sosial atau restu orang tua yang sangat ketat di masa lalu.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari tips yang ketiga ini adalah latar waktu dan tempat harus menyatu dengan nasib tokoh utama. Ketika kita berhasil menyatukan suasana zaman dulu dengan masalah yang bersifat emosional, cerpen kita akan semakin menarik untuk dibaca. Pembaca dapat merasakan betapa rumitnya hidup di masa itu lewat perjuangan setiap tokohnya.

4. Menggunakan Perspektif yang Berbeda

Banyak peristiwa sejarah yang sudah sering dibahas atau ditulis oleh pengarang lain. Agar cerita pendek kita tidak membosankan dan memiliki keunikan, coba kembangkan cerita dari sudut pandang yang jarang orang gunakan. Menulis cerpen sejarah tidak berarti bahwa kita hanya menyalin teks dari buku pelajaran, melainkan memberikan energi baru pada suatu peristiwa.

Biasanya, kisah kerajaan menggambarkan raja atau pangeran sebagai pahlawan yang sempurna. Namun, kita bisa mengambil perspektif yang lebih manusiawi atau bahkan sedikit kejam. Tuliskan kecerdikan mereka dalam memanfaatkan tentara untuk kepentingan pribadi, bagi sebagian orang mungkin menganggap sikap tersebut kurang ksatria.

Jika ingin mengangkat peristiwa sejarah yang kurang populer atau masih asing di telinga masyarakat, kita bisa memberikan sedikit petunjuk. Misalnya, mencantumkan keterangan tempat dan waktu yang jelas di halaman awal atau di dalam narasi. Hal ini bertujuan agar pembaca tidak bingung dan mempunyai gambaran perihal kapan dan di mana peristiwa tersebut terjadi.

Memberikan sudut pandang baru membuat cerpen kita lebih menarik dan disukai pembaca. Mereka mungkin sudah poin utama sejarah yang kita angkat, tapi mereka belum pernah melihat sisi manusiawi atau rahasia kecil yang ditawarkan. Hal ini yang menjadikan cerpen sejarah kita mempunyai nilai lebih daripada tulisan sejarah lainnya.

5. Menyusun Dialog yang Mudah Dipahami Pembaca

Tips terakhir dalam menulis cerpen sejarah yang bisa penulis terapkan yaitu dengan menyusun dialog yang mudah dimengerti oleh pembaca. Gaya bahasa yang tidak bertele-tele dan to the point merupakan kunci supaya cerpen kita enak dibaca.

Kita juga bisa memakai bahasa daerah atau dialek tertentu untuk meningkatkan suasana dalam cerpen. Hal yang perlu diingat adalah tidak semua orang mampu memahami arti dari dialog tersebut.

Contohnya, kita mengangkat cerita yang berlatar di Yogyakarta, kita boleh menggunakan beberapa kata bahasa Jawa untuk mendukung suasana. Agar pembaca tidak bingung dan mengerti arti kata tersebut, kita bisa memberikan catatan kaki atau terjemahan.

Namun, jangan sampai halaman cerpen kita penuh dengan catatan kaki dari atas sampai bawah karena itu bisa merusak kenikmatan membaca. Orang ingin membaca cerita, bukan membaca kamus terjemahan yang panjang dan menyita banyak waktu.

Solusi paling praktis yang dapat kita terapkan yaitu dengan menuliskan bahasa daerah pada bagian-bagian tertentu saja. Gunakan kata-kata daerah untuk panggilan (seperti “Pakde” atau “Nduk”) atau umpatan khas daerah tersebut. Dengan demikian, kesan asli atau tradisional tetap terasa kental tanpa harus membuat pembaca mengerutkan kening saat mencoba memahami maknanya.

Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai beberapa tips ampuh dalam menulis cerpen atau cerita pendek bergenre sejarah. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman yang berkeinginan membuat karya sastra berupa cerpen bisa terinspirasi dan termotivasi, ya!

Mudah-mudahan lima tips di atas bisa membantu kalian menciptakan cerpen sejarah yang menarik dan berkesan. Tetap semangat dan jangan ragu untuk berbagi cerita-cerita hebat kalian dengan banyak orang!

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn