Cerpen – Asa by Marni

“Ayo, kita pulang!” Aku mendengar jelas suara Bunda sangat parau.

Setelah salat Isya, aku dan Bunda makan malam dengan singkong rebusan sisa kemarin malam. Aku kian merasa bersalah kala memerhatikan mata Bunda yang sangat sembab.

“Bunda ….” Ucapanku menggantung di udara kala Bunda mengangkat tangan kanan dengan wajah murka.

“Sudah Bunda bilang, jangan bahas impian kamu itu di luar rumah. Bunda tidak suka kamu dihina, Nak!”

“Maaf, Bun,” lirihku sembari membereskan piring kotor.

“Nak, impian kamu itu seperti bunga mawar. Sulit dipetik. Begitu banyak duri yang menghalangi. Jadi, Bunda mohon lupakan masa depan kamu dan syukuri hidup kita ini dengan apa adanya.”

Aku menggeleng tegas. “Bunda, kita akan terus jalan di tempat ketika salah satu dari kita tidak ada yang mau berusaha. Aku yakin. Aku bisa mengubah takdir.”

Dipatahkan Yang Harusnya Menguatkan

“Kamu pikir buat jadi dokter itu gampang? Sekali kamu bilang mau jadi dokter terus bisa terwujud begitu saja? Usaha dan doa kamu tidak cukup kalau tidak ada materi, Nak!”

Aku tersentak dengan hati yang sudah lumpuh dan hampir berputus asa jika saja aku tidak ingat pada Tuhan yang selalu mampu mengubah takdir hamba yang memang sungguh-sungguh berusaha.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn