Cerpen – Asa by Marni

Aku terperanjat kala Bunda menepuk pundakku beberapa kali. “Kita bahas ini di rumah, ya. Takutnya tetangga dengar dan malah merendahkan kita.”

Aku meraup wajahku kasar. Selalu saja Bunda takut akan hinaan tetangga. Aku tidak pernah peduli akan komentar orang lain. Karena, ini hidupku. Ini tentang impianku dan kebahagiaanku dan Bunda di masa depan. Semua orang selalu bertingkah hanya ingin tahu tanpa berniat peduli.

“Bunda, aku mohon. Jangan pikirkan tetangga terus. Tetangga mau menilai kita seperti apapun itu terserah mereka. Yang penting kita bisa membangun tembok kokoh agar tidak tumbang karena hinaan mereka.”

Kutarik lagi napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Setelah cukup tenang aku pun berkata, “Aku ingin menjadi dokter. Aku ingin suatu saat nanti bisa membawa Bunda ke tanah suci Makkah.”

Angin berhembus pelan seakan menyambut ucapanku barusan hingga dedaunan pun ikut melambai-lambai bahagia.

Celaan dan Nyinyiran

Senyumanku memudar kala tak jauh dari aku berada, sahabat baik Bunda muncul dan berucap, “Marni, sekarang masih terang, belum waktunya untuk kamu tidur dan bermimpi. Sadar diri bisa, kan? Kamu itu miskin mana bisa jadi dokter. Ingat, lho, mimpi bisa ngejatuhin harga diri kamu. Makan sehari-hari aja susah.”

Seorang tetangga lain yang cukup nyinyir kebetulan melintas membawa bakul di tangannya. Dengan gaya angkuh ibu itu langsung menyambar, “Aduh … kamu itu udah dua tahun lulus SMA dan nggak kuliah. Pasti kamu lupa sama pelajaran. Udah miskin dan jelek, mimpinya malah jadi dokter. Ingat, lho! Mayoritas dokter itu cantik, kaya, dan pintar. Gak ada yang dekil seperti kamu!”

Aku tersenyum masam menanggapi gelak tawa dan celaan mereka. Kulihat Bunda memejamkan mata beberapa detik hingga menarik tanganku secara kasar.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn