Cerpen – Asa by Marni

Aku mendengarnya terkekeh sekali lagi. “Marni … Marni, mending lo gak usah berharap terlalu tinggi, deh. Gue nggak mau lihat lo dihina orang sekampung.”

“Sebagai sahabat lo gue ikut terhina dan malu!” Aku terdiam. Aku pikir Aisyah mengatakan itu karena peduli padaku. Namun, ternyata ia cuma peduli pada dirinya saja.

Deg!

Kalian tahu bagaimana sakitnya kulit yang tersangkut di duri kaktus dan ditarik paksa? Itulah hatiku sekarang ini. Kejutan demi kejutan telah aku dapati. Aku pikir setelah Bunda tidak mendukungku, akan ada sahabat yang selalu siap mendengar keluh-kesahku.

“Aisyah, kalau kamu tidak suka dengan impianku, dan tidak bisa mendukung, kamu cukup diam. Jangan menghina aku hingga aku down!”

“Bicara sama orang miskin cape juga ternyata!” Aisyah pun segera pergi meninggalkan luka membekas di hati.

Aku memilih untuk ke kamar menenangkan diri. Aku memang sadar akan keadaan ekonomi keluargaku, tetapi apa mereka tidak bisa untuk sekadar menguatkanku? Tuhan aku lelah. Aku harus bagaimana Tuhan?

Angin Segar Membawa Asa

Lagi dan lagi, aku terpaksa menghapus air mata saat mendengar suara pintu diketuk dengan cukup keras. Belum sempat aku berdiri untuk membukanya, Bunda sudah terlebih dahulu membuka pintu depan dan mempersilakan seorang wanita paruh baya berkacamata untuk masuk.

Aku yang mendengarkannya dari balik pintu kamar mencoba menahan tangis kala Bunda tengah berdebat dengan tamu itu. Karena tidak kuat, aku pun segera keluar dari kamar.

“Bunda! Kenapa Bunda sampai memaki guru aku? Apa yang salah dari maksud bantuannya?”

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn