Cerpen – Asa by Marni

“Salah besar, Nak! Dia datang seolah menjadi pahlawan buat kamu. Padahal, dia hanya ingin menghina kita! Sudah tahu kamu ingin menjadi dokter, tetapi dia … malah meminta kamu untuk kuliah di kampus suaminya dengan gratis dan jurusan yang berbeda!”

“Bunda tidak suka dikasihani!” Aku membeku ditempat dan mulai menatap Ibu Raisya yang menggeleng pelan seolah menjawab ‘ia tidak bermaksud menghina’.

Aku meminta Bunda istigfar dan mencoba membahas ini dengan baik-baik.

“Begini, Nak. Ibu sama sekali tidak menghina kamu. Ibu menawarkan ini karena Ibu mau memberi kamu peluang untuk melanjutkan pendidikan dan mendapat beasiswa. Kamu bisa ikut tes di kampus suami Ibu. Jika kamu lolos kamu bisa mengambil jurusan PGSD.”

“Nak, pikirkan ini baik-baik. Tidak semua asa kamu menjadi nyata. Terkadang, Tuhan memberimu pilihan lain hanya untuk membuat kamu mengerti, bahwa Tuhan masih peduli dengan kamu lewat cara lain.”

Aku dan Bunda saling pandang. “Setelah kamu lulus, dan berhasil menjadi guru. Jika suatu saat kamu ingin kembali meraih gelar sebagai dokter, insya Allah kamu akan dengan mudah mengejarnya menggunakan kumpulan gaji kamu.”

Aku tersenyum merekah. Tak menyangka pada wanita di depanku ini. Dia bukan hanya sosok guru yang bijak, tetapi ia juga sosok bidadari yang selalu peduli pada siapapun.

Restu Bunda

“Bunda,” lirihku meminta persetujuan.

Aku memberikan Bunda waktu beberapa menit untuk memikirkannya. Hingga kudapati anggukan setuju dari Bunda. Aku terpekik bahagia dan segera memeluk Bunda dengan erat.

“Bunda, terima kasih. Aku butuh doa dan semangat dari Bunda. Itu saja.”

Aku dapat merasakan pelukan Bunda yang semakin erat, “Bunda percaya kamu akan bisa mengubah takdir kita, Nak. Maafkan Bunda ya Sayang, selama ini mengecilkan impian kamu hanya karena kondisi keuangan kita yang buruk.”

Penulis: @queen_peony_

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn