Cerpen – Asa by Marni

Bunda pergi begitu saja tanpa mau menenangkan aku yang terisak. Hanya ketukan pintu yang mampu membuat tanganku segera menepis air mata di pipi. Aku tersenyum lembut pada sahabatku, Aisyah, yang sudah berdiri di depan pintu.

Tanpa menunggu dipersilakan masuk, dan dengan tidak tahu dirinya ia langsung duduk di permadani berhadapan denganku.

“Ini buat lo.” Aku mengernyit heran kala mendapati sebuah undangan yang bertulis namanya dan seorang laki-laki yang … ada di hatiku.

“I-ini maksudnya apa?”

“Maaf, ya. Gue dijodohin sama orang yang lo cinta. Minggu depan kami akan nikah.”

“Nikah? Atas dasar paksaan atau gimana?” tanyaku berusaha tenang. Walau bagaimanpun dia sahabat terbaikku.

Aku mendengar ia terkekeh dengan menatap miris padaku. “Marni, mau aku dijodohkan ataupun tidak, aku pastinya akan menjadikan dia suamiku. Selama ini kamu tidak memberi aku kesempatan untuk curhat. Kamu selalu peduli pada curahan hati kamu! Jadi, jangan salahkan aku ketika—” Aku langsung mengangkat tangan meminta ia untuk berhenti berucap.

Akhirnya, aku memilih mengalah daripada berdebat hanya gara-gara satu laki-laki.

Sahabat Yang Menghujat

“Aku ikhlas,” ujarku tersenyum paksa. Aku bukan ratu drama. Namun, kali ini akan kucoba untuk pura-pura bahagia.

“Baguslah. Btw, lo masih bercita-cita buat jadi dokter?” tanyanya datar. Aku mengangguk antusias kembali.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn