Cerpen – Asa by Marni

Orang bilang hidup adalah takdir yang tidak bisa kita ubah ataupun ratapi. Namun, menurut pandanganku hidup adalah sebuah pilihan yang harus dilawan dengan cara berjuang dan terus berdoa melawan takdir untuk masa depan yang lebih sempurna dari sebelumnya. Ya, aku percaya akan doa maksimal yang mampu menembus langit ketujuh dan bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik bersama wanita hebatku. Bunda.

Bulir keringat kian membanjiri wajahku yang seharian melawan terik matahari. Aku mengusapnya dengan perlahan. Sudah kupastikan wajahku sangat kotor. Karena, kedua tanganku kotor sehabis menanam padi.

Cerpen – Asa by Marni

Mata sayu ini mulai mencari keberadaan Bunda yang juga menanam padi tak jauh dari aku berada. Aku menghela napas, dan hatiku meringis kala melihat Bunda yang bergegas minum air sampai tersedak.

“Bunda, pelan-pelan minumnya. Mending, Bunda pulang duluan aja. Hari udah mau sore,” ujarku penuh kelembutan.

Kudapati senyuman Bunda terbit menghangatkan hati yang dingin ini. “Kita pulang sama-sama, Nak. Bunda gak mau kamu sakit karena kecapean,” ucapnya penuh perhatian.

Aku mengangguk saja dan memilih untuk membantu Bunda membawa rantang dan botol minum. Hening meliputi perjalanan pulangku dan Bunda. Aku sendiri sibuk memikirkan rencana masa depan, sedangkan Bunda … entahlah aku tidak bisa menebaknya. Namun, aku bisa melihat jelas pada mimik wajahnya yang begitu frustrasi.

“Marni, Bunda mengerti perasaan kamu.” Ucapan penuh penekanan itu menghentikan jalanku. Pernapasanku tercekat. Hatiku mulai ngilu. Ternyata memang benar, insting seorang Ibu selalu kuat pada perasaan anaknya.

Sebuah Cita-Cita

“A—aku …” Aku menggigit bibir bawah dan mencoba menahan air mata yang semakin memaksa untuk keluar. Dengan satu tarikan napas aku berucap, “Aku ingin … kuliah, Bunda.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn