
Andre dilarikan ke rumah sakit. Sudah hampir dua jam ia berada di ruang operasi karena terjadinya perdarahan yang membuatnya kehilangan banyak darah. Azzah, bunda, dan ayahnya terlihat begitu sedih.
Setelah empat jam berlalu, dokter keluar dari ruang operasi.
Cerpen – Aku dan Sepucuk Penyesalanku by Megi Permata
“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?” tanya bunda cemas.
“Sebelumnya saya meminta maaf, Bu. Kami sudah berusaha semampunya, tetapi Allah lebih sayang kepada anak Bapak dan Ibu. Saya turut belasungkawa, ya, Bu, Pak,” jelas dokter turut prihatin.
“Nggak mungkin! Bang Andre tadi pagi masih ngobrol bareng aku. Nggak mungkin dia pergi! Seharusnya dia nggak nolong aku. Biarin aku aja yang pergi. Kenapa harus abang? Kenapa?”
Artikel yang sesuai:
Pecah sudah tangis Azzah yang begitu menyayat hati. Begitu pula dengan bunda.
“Udah, ya, Zah. Mungkin ini udah kehendak Allah. Abang sayang sama kamu, makanya dia nolong kamu. Abangmu itu nggak pernah mau kamu terluka. Dia selalu melindungi kamu. Tanpa kamu tau, dia udah banyak berkorban,” balas ayah.
Azzah merasa sangat bersalah. Ia tidak pernah tahu abangnya begitu peduli dan sayang terhadapnya. Yang ia tahu, abangnya hanya tak acuh. Ia kira abangnya hanya peduli pada diri sendiri. Nyatanya, Andre begitu menyayanginya.
“Maaf dan makasih, Bang, untuk semua yang udah Abang lakukan buat Azzah. Ternyata Abanglah penulis dari cerita yang Azzah baca.
Tanpa sadar, itu kisah Abang sendiri. maafin Azzah yang egois dan selalu ingin menjadi pusat dalam kehidupan orang lain.
“Tanpa Azzah tau, Abang begitu banyak menyimpan luka yang terbungkus dalam wajah dingin, untuk menutupi diri dari kerapuhan. Sampai Azzah ngak tau Abang kena kanker otak.
“Kenapa Abang terlihat kuat dan banyak menahan sakit sendiri? Maaf, Bang. Azzah nggak akan pernah melupakan Abang dan berusaha menjadi lebih baik lagi.” lirih Azzah.
penulis: @megipermatabunda






