
“Dasar, bikin emosi banget nih anak! Lama-lama Bunda buang kamu ke rawa biar dimakan sama buaya. Bandel banget. Kalau bisa ditukar sama anak tetangga, udah Bunda tukar kamu,” tutur bunda kesal setengah mati dengan kelakuan badung anak gadisnya.
“Jangan, Bunda, huwaa!” seru Azah histeris dan mendramatisasi.
Cerpen – Aku dan Sepucuk Penyesalanku by Megi Permata
Helaan napas berat terlihat dari dua pria yang berbeda usia itu. Mereka hanya menatap malas drama pagi yang sudah biasa terjadi.
“Ayah, bunda jahat! Masa mau buang Azzah.” Adunya kepada sang ayah yang hanya menatap dengan malas.
“Udahlah, Dek, Bun, daripada ribut, lebih baik kita sarapan. Kan Bunda mau ke butik, Azzah juga mau ke sekolah,” ujar ayah menghentikan perdebatan antara ibu dan anak itu.
Artikel yang sesuai:
Sarapan pagi berlangsung dalam kehebohan tingkah jahil Azzah dan sikap kaku Andre, kakak Azzah yang begitu kesal dengan tingkah adiknya yang tak berhenti berbicara.
Ada saja yang dia bicarakan, sampai Andre pernah berpikir Azzah adalah anak yang ditemukan di jalan.
Kemudian, sayangnya dibawa pulang oleh bunda. Karena Azzah begitu berbeda sifatnya dengan Andre. Kendati demikian, Andre sangat menyayanginya, walaupun Azzah tidak pernah mengetahuinya.
“Azzah ke sekolah bareng Lia, ya, Bun. Nggak mau sama bang Andre. Dia itu nyebelin, kaku kayak kanebo, dan jahat banget. Masa nolak Lia di depan umum? Kan kasihan Lia jadi malu banget,” jelas Azzah menggebu-gebu.
“Kamu pergi sama aku, nggak ada penolakan.” Suara dingin itu jelas menunjukkan tak ingin ada bantahan.
“Udahlah, Dek, pergi bareng abangmu aja. Lagian bunda sama ayah lebih percaya kamu bakal aman sama bang Andre,” jawab bunda menengahi.






