
“Maaf, Putri. Ayah hanya senang bisa bekerja sambil melihatmu sekolah. Ayah juga tidak mungkin berhenti karena gaji di sana lebih besar dibandingkan jadi sopir angkot.”
“Terserah, pokoknya jangan sok dekat denganku di sekolah. Putri akan bilang kalau Ayah itu tetangga. Putri tidak ingin direndahkan oleh mereka.”
Cerpen – Untuk Putriku by Inong Islamiyati
Putriku, andai kamu tahu kalau yang kamu lakukan hanya akan membuatmu lelah sendiri.
Bukankah lebih baik mencari teman yang tulus, dibandingkan pertemanan palsu dengan orang-orang kaya? Suatu saat, jika rahasiamu terbongkar, mereka bisa saja meninggalkanmu. Kamu akan kesepian lagi, putriku.
Ayah mohon jagalah lingkungan pergaulan. Sebab ayah tidak ingin kau terjebak dalam kesesatan dan kepalsuan.
Artikel yang sesuai:
Waktu berlalu dengan cepat. Hari itu, ayah berlari sekuat tenaga sambil menggendongmu menuju rumah sakit.
Dalam hati, ayah mengutuk lelaki yang tega membuatmu seperti ini. Nak, kenapa kamu melakukan hal itu?
Apakah karena uang yang ayah berikan untukmu selalu tidak cukup? Sehingga kau rela menjadi kupu-kupu malam demi harta?
Nak, bangunlah. Ayah tidak sanggup melihatmu berdarah dan tak sadarkan diri. Anakku, darah yang mengalir di tubuh ayah ini rela aku berikan untukmu.
Putriku, setelah kau tersadar nanti, kumohon berubahlah menjadi lebih baik. Ayah percaya, kamu tidak mudah menyerah dengan keadaan.
Karena putriku, dunia ini hanya tempat tinggal sementara. Kelak kita akan kembali ke tempat yang kekal. Kampung akhirat.
Putri menatap sang ayah telah terbaring di sampingnya. Tanpa dia sadari, air matanya jatuh deras dan mulutnya tak henti mengucapkan kata maaf.
Penulis: @inong_islamiyati






