
Sedih rasanya setiap melihat punggungmu ketika pergi dan pulang sekolah sendirian. Padahal, semua temanmu berjalan dengan ayah atau ibunya.
Namun, Nak, ayah harus bekerja demi kebutuhan keluarga kita. Sehingga ayah tidak bisa mengantarmu setiap saat. Disisi lain, ayah senang, karena kamu belajar menjadi anak yang mandiri.
Cerpen – Untuk Putriku by Inong Islamiyati
Putriku, terima kasih karena telah belajar mengerti. Ayah bangga karena kamu sudah mandiri. Kamu bisa membersihkan rumah, mencuci baju, bahkan memasak.
Meski hanya masakan sederhana. Kamu adalah anak ayah yang kuat dan tegar. Terima kasih telah menjadi cahaya bagi ayah.
Saat hari kelulusan SMP-mu, ayah tak henti menangis, sambil tak henti bersyukur. Putriku, kamu telah berhasil.
Artikel yang sesuai:
Kamu mendapatkan beasiswa di salah satu SMA favorit. Sekolah yang hanya bisa dimasuki anak-anak yang sangat pintar atau orang kaya.
Ayah memelukmu erat sembari tak percaya. Akhirnya Allah telah menunjukkan jalan kesuksesan untukmu, putriku. Ayah akan selalu berdoa demi kebahagiaanmu.
Waktu berlalu begitu cepat. Putriku, mengapa sekarang kamu berubah? Jujur ayah sedih melihat penampilanmu sekarang.
Bajumu kini terlihat ketat. Tasmu banyak dan berbeda-beda. Bahkan, riasanmu sekarang makin tebal. Hingga kadang ayah merasa itu bukan dirimu.
Putriku, apakah kamu ada masalah? Kalau memang ada, ceritakan saja. Ayah pasti akan membantumu sebisa mungkin.






