
“Aaa!” Pada akhirnya Lanufa ikut berteriak.
Sontak teriakan itu berhasil membangunkan seluruh penghuni kosan. Gedoran pintu mulai terdengar. Bisa Lanufa dengar, di antara banyaknya orang di luar ada yang memanggil namanya.
Lanufa sekarang sudah bisa membuka mata. Ia mengatur nafasnya sesaat sebelum menuju ke arah pintu.
“Lo kenapa, Lan?” tanya seorang laki-laki yang kamarnya berada di samping kamar Lanufa. Roni namanya.
“Aku … aku ….”
“Lo pasti dengar suara teriakan lagi ‘kan?” Ara yang menebak. Ara juga merupakan penghuni kosan tersebut. Kamarnya berada di sebelah kiri kamar Lanufa.
Artikel yang sesuai:
“Enggak usah ngadi-ngadi. Belakangan ini, gue enggak dengar suaranya, paling gue dengar suara jangkrik,” ucap Roni.
“Ya jelas, mungkin aja lo udah di alam mimpi,” kata Ara.
“Lan, lo malam ini tidur di kamar gue aja,” saran Ara.
Lanufa menganggukkan kepala pertanda setuju.
Keesokan harinya, Lanufa seperti biasa berangkat ke sekolah. Sejujurnya, suara teriakan semalam masih memenuhi isi kepala Lanufa. Meskipun demikian, ia tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Gadis kelas 10 SMA itu mulai keluar dari kamar kosnya setelah selesai bersiap-siap. Pagi tadi, sekitar pukul 5, Lanufa langsung kembali ke kamar kosnya.
“Lan,” panggil Ara saat Lanufa lewat tepat di depan kamarnya.
“Barengan.” Ara cepat-cepat memakai sepatunya. Setelah selesai, ia langsung menghampiri Lanufa.
“Tumben, Kak Ara berangkatnya pagi banget?” tanya Lanufa. Pasalnya, kakak kelasnya itu tidak pernah berangkat pukul setengah tujuh pagi.
“Ada yang mau gue omongin sama lo.”
Ara merupakan siswi kelas 12. Ia sudah lebih dulu tinggal di kos itu jauh sebelum kedatangan Lanufa. Tentu saja, Ara sudah mengetahui banyak hal tentang tempat kosnya. Yang paling membuat Ara penasaran adalah, suara teriakan yang belum jelas asal-usulnya.
Sudah dari dulu Ara ingin menyelidiki hal tersebut, tetapi kamar kos itu benar-benar tertutup rapat karena tidak ada yang menempatinya. Maka dari itu, sebelum ia selesai tinggal di kosan tersebut, ia akan mencari tahu tentang misteri ini.
“Gue udah dari dulu ngerasa janggal sama suara teriakan itu. Gue yakin ada yang enggak beres,” ucap Ara penuh keyakinan. Seperti tak ada rasa ragu lagi dalam dirinya.
“Sama!”
Kedatangan Roni berhasil mengagetkan Lanufa dan Ara. Keduanya bahkan sempat latah mengucapkan kata ‘sama’.
“Ngagetin aja lo, Ron.” Ara memukul bahu Roni.
Sama seperti Ara, Roni juga merupakan siswa kelas 12. Entah sebuah kebetulan atau tidak, ia merupakan teman sekelas Ara.
“Gue udah dari dulu ngerasa aneh sama suara teriakan itu. Malam ini, kita harus cari tahu kebenarannya!” ucap Roni tanpa memperdulikan perkataan Ara yang sebelumnya.
“Mungkin aja itu emang makhluk“
“Enggak! Kalau emang itu hantu kenapa suara teriakannya selalu pas jam 12. Anehnya lagi, suaranya cuma kedengeran 5 menit. Tapi yang kemarin paling aneh, durasinya jadi 10 menit.” Roni memotong perkataan Lanufa.
“Katanya lo enggak dengar suara itu lagi?” tanya Ara.
“Gue bohong, niatnya supaya Lanufa enggak takut.”
Pembicaraan ketiganya harus berhenti karena mereka sudah sampai di sekolah. Namun, ketiganya sudah membuat rencana untuk nanti malam.
Roni dan Ara sudah berada di kamar Lanufa. Beberapa menit lagi, jam akan menunjukkan pukul 12 malam. Lanufa duduk di antara Roni dan Ara. Sejujurnya ia masih sangat takut. Untuk mengurangi rasa takut pada diri mereka, ketiganya memutuskan untuk menggenggam tangan satu sama lain. Belum terdengar suara saja sudah membuat jantung mereka bertiga berpacu tak beraturan. Rasanya mereka sedang dijebak di dalam ruangan yang begitu menyeramkan.






