
“Kak Roni … takut banget, ya?” tanya Lanufa begitu polos.
Roni yang tak ingin dianggap penakut menjawab, “Enggak.”
“Tapi, Kak Roni megang tangan Lanu erat banget.”
Diam-diam Ara menahan tawanya. Ini bukan waktu yang tepat untuk menertawakan satu sama lain.
Suara teriakan yang tiba-tiba itu berhasil mengagetkan ketiganya. Sontak Lanufa dan Roni memeluk satu sama lain. Berbeda dengan Ara yang memeluk erat bantal guling milik Lanufa. Perlahan, ia mulai merasa tenang. Setelahnya Ara langsung bangkit dari duduknya dan mulai mencari sumber teriakan tersebut dengan sedikit rasa takut.
“Kalian mau sampai kapan pelukan gitu?” tanya Ara.
Artikel yang sesuai:
Lanufa yang baru sadar, langsung saja melepaskan pelukannya. Ia segera bangkit dari duduknya.
“Cari tahu sumbernya sebelum menit ke sepuluh,” perintah Ara.
Di tengah malam seperti ini, seharusnya ketiga remaja itu tidur dengan nyenyak. Tetapi, suara teriakan tersebut selalu saja mengganggu mereka. Ketiganya mulai mencari sumber suara di setiap sudut ruangan. Pandangan Ara berhenti pada sebuah vas bunga palsu. Tangan mungilnya mulai mengambil vas bunga tersebut. Suaranya bisa Ara dengar dengan jelas.
“Gue yakin suaranya dari sini. Coba kalian dengar.” Ara mendekatkan vas bunga itu ke arah Lanufa dan Roni secara bergantian.
Tepat di menit ke sepuluh, suara teriakan tersebut berhenti. Mereka mulai yakin, bahwa suaranya memang berasal dari vas bunga palsu.
“Ini punya lo?” tanya Ara.
Lanufa menggeleng pelan.
Setelah kejadian semalam. Hari ini, selepas pulang sekolah. Ketiganya langsung berkunjung ke rumah Bu Welas—pemilik kosan. Bu Welas mendengarkan cerita ketiga remaja itu dengan seksama. Jangan lupakan ekspresi kagetnya saat mengetahui, ternyata suara teriakan itu berasal dari vas bunga palsu.
“Pantas aja, waktu saya panggil paranormal, katanya enggak ada hal aneh.” Bu Welas berbicara saat Ara sudah menceritakan semuanya.
“Ibu tahu, siapa pemilik vas bunga ini?” Kini Roni yang bertanya. Rasa penasarannya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Seinget saya, yang terakhir nempatin kamar itu si Rudri. Terus barangnya yang ini lupa dibawa. Sayang kalau dibuang, jadi saya taruh aja di sana.”
Pandangan Bu Welas beralih menatap Lanufa yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
“Waktu itu saya sudah kasih tahu, Lanu. Barangnya itu bisa dibuang atau disimpan aja.”
“Iya, tapi saya simpan, sayang kalau dibuang,” ucap Lanufa sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak terasa gatal.
“Kira-kira Ibu tahu di mana tempat tinggalnya?” Ara menanyakan itu hanya karena berniat mengembalikan barang tersebut dan tentunya merasa penasaran dengan vas bunga yang bisa mengeluarkan suara teriakan melengking tersebut.
“Kalau itu, saya kurang tahu. Mendingan barangnya dibuang aja.”
Tak ada yang bisa mereka lakukan, selain membuang barang itu. Vas bunga tersebut berhasil menciptakan suasana kamar nomor 13 begitu menyeramkan. Mereka masih tak percaya, ternyata suaranya berasal dari sebuah vas bunga palsu. Ada saja yang membuat barang seperti itu. Malam harinya, Lanufa merasa lebih tenang. Sepertinya tak ada gangguan lagi. Ia mulai memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, entah kenapa ia tersadar dari tidurnya.
Lanufa melirik jam wacker yang ada di samping tempat tidur. Ternyata sudah menunjukkan pukul 12 lewat 1 menit. Lanufa tersenyum kecil. Akhirnya suara teriakan tersebut tak lagi ia dengar. Lanufa tak peduli lagi, mengapa suara teriakan yang terakhir terdengar lebih lama dari biasanya. Sekarang ia hanya ingin menikmati hidupnya Dengan tenang. Dengan demikian, misteri teriakan itu sudah terpecahkan.
Penulis: Ni Made Yuliantari






