
Mendengar jawaban Deli, Nia menjadi bingung dan menatap ku mencari jawabannya. Aku berjalan mendahului mereka dan mulai menjelaskan ucapan Deli pada Nia dengan berjalan mundur.
Beruntungnya saat aku berjalan mundur, tidak ada seseorang yang aku tabrak sehingga kami bertiga tiba di kelas kami. Suasana kelas telah ramai oleh mahasiswa lainnya yang seangkatan dengan kami. Dosen datang dan perkuliahan pun dimulai.
Setelah perkuliahan selesai aku dan kedua sahabatku Deli dan Nia pergi pulang ke indekos Deli. Mengapa memilih pulang ke indekos Deli, karena hanya itu tempat terdekat dengan kampus.
Dan nanti setelah shalat asar kami ada kegiatan, yang membuat kami harus datang lagi ke kampus.
Di indekos Deli kami bercerita banyak hal dan tanpa terasa karena lelah kami bertiga tertidur dan terbangun saat suara azan asar terdengar. Setelah shalat kami menuju lagi kekampus untuk melaksanakan kegiatan kami.
Artikel yang sesuai:
Mahasiswa lain yang mengikuti kegiatan tersebut telah berkumpul dan kami bertiga lah yang paling telat tiba di sana. Kegiatan yang kami laksanakan adalah kegiatan belajar membaca al-qur’an dengan tajwid yang benar, dan kegiatan ini dilakukan semingu sekali.
Dan saat itu lah aku melihat dia yang sederhana dan berbeda. Aku yang awalnya merasa aneh dengan tingkah nya dan kebingungan.
Sedangkan kedua sahabatku merasa biasa saja. Aku mulai fokus dan tidak memperdulikan dia yang belum ku tahu namanya.
Tingkah nya itu membuat ku bingung, dia selalu menundukkan pandangannya dan tidak ingin melihat ke arah mahasiswi di depannya. Namun, kebingungan ku terjawab saat Nia menjelaskan itu semua.
Ternyata dia yang ku tahu bernama Abdullah sedang menjaga pandangannya dan itu dilakukan oleh semua laki-laki sholeh. Juga untuk semua wanita sholehah. Menjaga pandangan, dan tidak menatap seseorang yang bukan mahramnya.






