
Dia hanya menjadi murid tak kasat mata namun menjengkelkan. Terkadang teman-temannya Wangi sering melupakan Laskar karena tak aktif di kelas. Tapi, Wangi masih mengetahui keberadaannya karena Laskar sering terlambat. Itu membuatnya kesal.
Wulan memberanikan diri mengobrol dengan Laskar di bangku pojok belakang.
“Kamu yang buat es ini ya? Enak banget,” ucap Wulan.
Laskar hanya mengangguk sambil bersiap untuk tidur di atas silangan tangannya. Wulan menghentikan itu dan membuat Laskar marah.
“Bisa gak kaya yang lain aja?” ucapnya kesal.
Artikel yang sesuai:
Wulan malah menghitung jarinya, “Waw, enam kata keluar dari mulutnya Laskar teman-teman!” soraknya.
Laskar tak memperdulikan itu, begitu pun dengan teman-temannya. Hari demi hari, Wulan masih bersikeras untuk menjadi teman Laskar. Terkadang, dia ingin bermain di rumahnya namun Laskar sering menolak.
Wulan hanya tidak tahu rumah Laskar saja selain dari teman-temannya yang lain. Dia sangat penasaran. Namun, saat membuntuti Laskar pulang ke rumahnya, Wulan malah tersesat.
“Ini di mana sih, kok gang buntu. Perasaan dia tadi jalan sini deh,” ucapnya.
Wulan mengeluarkan ponselnya, dia baru ingat Laskar tak masuk grup kelas. Alhasil dia hanya menerka-nerka jalan keluar dari gang buntu itu. Dia malah masuk ke pertanian warga setempat. Tempatnya sepi dan ini sudah mulai gelap. Wulan sempat ketakutan.






