Cerpen – Hal yang Hilang by Kirana Amara Putri

Hal yang Hilang

“Kamu benci apa, Na?”

Nilam memandang wajah Giana, sahabatnya yang memandang lurus dengan tatapan kosong. Air mata mulai mengering di pipinya. Nilam sebetulnya ingin berteriak, ia tidak terima melihat Giana yang harus dalam kondisi seperti ini. Sahabatnya terlalu berharga untuk diperlakukan seperti sekarang.

“Bayang-bayang.” Giana menjawab dengan suara parau. Ia menarik nafas dan kembali menatap kosong pepohonan di depannya. Menyesapi hembusan angin yang membelai kulitnya.

Cerpen – Hal yang Hilang by Kirana Amara Putri

Nilam cukup mengerti mengapa Giana memilih ‘bayang-bayang’ sebagai hal yang ia benci. Selama ini, ia harus menghadapi laki-laki yang memiliki bayang-bayang perempuan lain. Dirinya memang selalu membersamai langkah laki-laki itu, tetapi sebatas bayang-bayang. Tidak muncul seutuhnya.

“Apa yang sebetulnya salah dari aku?” Giana kini memandang wajah Nilam, berusaha mencari jawaban yang ia sendiri tidak akan pernah tahu.

Tidak, sahabatnya tidak pernah salah. Ia hanya mencintai orang yang salah, itulah jawabannya. Cinta tidak pernah salah, hanya seringkali salah sasaran.

“Tidak ada yang salah Na, tidak ada,” jawabku dengan penuh penekanan.

Giana kini kembali menangis. Ia merasakan air mata yang asin di bibirnya, matanya terasa sangat panas. Namun, tak sebanding dengan hatinya yang seperti tercabik dengan kekuatan penuh. Ia menunduk meremas rok yang ia kenakan. Rasanya sungguh pahit.

“Sebenarnya apa yang hilang, Na? Apa ia ada saat kamu mengalami hari-hari beratmu? Atau ketika kamu berhasil meraih sesuatu? Kamu ceritakan itu semua padaku. Karena kamu tau ia tidak pernah hadir di sana untuk menyaksikan setiap momen yang kamu lewati” Nilam mengernyit mengingat hal-hal penting yang Giana lewati. Namun, laki-laki sialan itu tidak peduli.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn