Cerpen – Gangguan by Ni Made Yuliantari

Cerpen - Gangguan by Ni Made Yuliantari

Setelah turun, mereka kembali melihat situasi sekitar. Sangat sepi. Hanya suara kicauan burung dan suara binatang lainnya yang mereka dengar. Wajar saja, mungkin karena di sekitar mereka hanya terlihat hutan lebat. Kini mereka sudah berada di dalam rumah. Semuanya terlihat kaget, saat situasi di luar berbeda jauh dengan situasi di dalam.

Di luar terlihat begitu mengerikan, berbeda dengan situasi di dalam yang begitu bersih. Gina menunjukkan kamar untuk teman-temannya. Di rumah itu ada beberapa kamar. Erlan dan Baron memilih untuk satu kamar berdua. Gina serta kedua temannya juga melakukan hal yang sama.

Karena hari sudah sore, mereka memutuskan untuk membersihkan tubuh sebelum membuat makan malam. Di rumah itu sudah disediakan makanan instan, jadi mereka tidak susah payah membuat makan malam.

Semuanya telah selesai membersihkan tubuh mereka. Saat ini Erlan dan Baron sedang menunggu makan malam. Ketiga perempuan sudah sibuk di dapur untuk memasak spaghetti. Beberapa menitnya Asya memanggil kedua temannya untuk mengajak mereka makan malam. Semuanya nampak baik-baik saja hingga lampu di ruang makan tiba-tiba berkedip dengan sendirinya. Semuanya menatap satu sama lain. Pikiran negatif memenuhi isi kepala mereka.

Sorry, Bokap gue lupa ganti lampu di dapur,” ucap Gina.

Lampu terus saja berkedip dengan sendirinya. Merasa terganggu, Gina langsung menuju ke arah sakelar untuk mematikan lampu. Alhasil mereka pindah ke ruang tamu untuk melanjutkan makan malam. Gangguan tidak hanya berhenti disitu saja. Suara derit pintu kembali mereka dengar. Pintu itu merupakan pintu kamar tamu yang berada dekat dengan ruang tamu. Baron masih menatap pintu tersebut. Mulutnya sedikit terbuka. Bukan karena kaget, melainkan ingin menyantap spaghetti yang masih tersisa tadi.

Semua teman-temannya melihat ke arah Gina, yang di tatap juga masih heran. Pintu tadi terbuka dan tertutup dengan sendirinya. Bahkan berulang kali. Mereka masih terlihat tenang. Lebih tepatnya berusaha menyembunyikan rasa takut yang berada dalam diri masing-masing. Malam hari semakin larut, kini mereka masuk ke dalam kamar. Jujur saja, kejadian tadi masih cukup mengganggu pikiran mereka.

Ketiga perempuan itu, sudah duduk di atas kasur berukuran besar. Di masing-masing pangkuan mereka memegang bantal guling. Banyak hal yang dibicarakan. Sengaja agar mereka lupa dengan kejadian tadi. Serasa tak diberi ketenangan, suara ketukan yang begitu keras terdengar dari bawah. Seperti ketukan meja. Mereka masih berpikir positif. Karena merasa kesal, Dara turun dari tempat tidur dan berniat menegur dua teman laki-lakinya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn