Cerpen – Dua Kado Untuk Gadis by Dista Arum

Inilah yang Gadis syukuri memiliki beliau sebagai ayahnya. Ayah Gadis selalu berhasil merangkap tugas untuk dirinya, menjadi ibu yang selalu menenangkan hatinya pun menjadi ayah yang selalu menuntun setiap jalannya.

Gadis akhirnya bergumam mengiyakan. Dia menengadahkan kepala, kali ini air matanya benar-benar sudah jatuh. Gadis segera menyeka pipinya, memalingkan wajah seraya menuntaskan tangis yang pecah. Sang ayah menepuk punggung Gadis, berharap dapat menyalurkan rasa tenang pada putrinya itu.

Cerpen – Dua Kado Untuk Gadis by Dista Arum

“Diterima saja sakitnya, Dis, nggak ada yang salah untuk berdamai dengan masa lalu. Gadis putri Ayah yang paling hebat,” ucap sang Ayah yang terdengar di telinga Gadis sesaat setelah tangisnya mereda.

“Ini … Hadiah untuk putri Ayah yang baik hati.” Ayah Gadis mengulurkan sebuah kotak kecil dan berhasil membuat senyum Gadis mengembang perlahan. Serta merta dia memeluk sang Ayah di sebelahnya.

Bukan. Bukan sekadar pelukan untuk hadiah.

Namun, pelukan untuk setiap kasih sayang yang rasanya tak pernah kurang Gadis terima serta kesabaran sang ayah selama ini menjalankan perannya.

Untuk pernyataan ayahnya tadi Gadis rasa-rasanya kurang setuju karena menurutnya sang ayah lah yang paling baik hati.

“Hadiahnya Cuma satu, Yah?” Bukan tanpa alasan Gadis bertanya demikian, pasalnya sang Ayah selama ini selalu memberikan dua hadiah setiap ulang tahunnya.

“Ibumu yang akan memberikannya langsung tahun ini.” Gadis tertegun, untuk beberapa saat dia mencerna ucapan ayahnya. “Ibu?” ucap Gadis pelan masih penuh tanda tanya.

Seorang wanita paruh baya yang sekilas terlihat seperti Gadis tiba-tiba masuk dari pintu depan.

Wanita itu menunduk menahan tangis, tidak menyangka bahwa dia telah melukai putrinya begitu dalam. Tampaknya kali ini dia telah menyiapkan rangkaian kata yang panjang untuk Gadis.

“Maafkan Ibu, Dis.” Wanita itu terlihat menghela napas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Maaf karena Ibu sudah jadi pengecut, dan baru berani menemui Gadis sekarang, Maaf juga Ibu sudah gagal menjadi ibu yang baik buat Gadis, maaf—” Belum tuntas kalimat itu diucapkan, Gadis sudah langsung berlari memeluk wanita tersebut yang ternyata ibunya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn