
“Jadi aku harus gimana?”
“Aku nggak tahu. Yang tahu itu kamu sendiri. Kamu yang milih untuk suka sama Mas Rasyid. Jadi semua keputusan ada di kamu. Aku—ada cuma buat mendukung kamu. Selama hal itu membuat kamu bahagia.” Untuk sesaat, aku melihat Dahayu menghela napas panjang. Sedangkan di sampingnya, aku masih tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Kalau kamu nggak coba buat bilang sekarang, kamu nggak akan tahu hasil bagaimana. Bisa jadi perasaan kalian tumbuh bersama-sama kan? Nggak papa buat bilang duluan. Kalau nggak ada yang bergerak, gimana mau maju? Waktu nggak datang dua kali, jadi coba bilang sekarang sebelum semuanya terlambat. Sebelum hidup kamu di penuhi dengan rasa penyesalan.”
Matahari perlahan-lahan merangkak naik. Angin pagi mulai berhembus dengan lembut. Menerbangkan daun-daun kering dari pohon kersen di samping gubuk hingga jatuh tepat di hadapan kaki kami.
Mungkin untuk saat ini, aku akan membiarkan perasaan itu terbengkalai. Bagai rumah tak berpenghuni, aku berharap agar perasaan ini perlahan-lahan akan rusak. Aku akan membiarkannya sampai tidak ada satupun kepingan perasaan untuk Mas Rasyid yang tersisa, agar harapan untuk memilikinya itu sirna. Jika laki-laki itu betulan aku bukan jodohnya.
Artikel yang sesuai:
Sesekali, mungkin aku akan merasa senang sebab dapat melihatnya lagi. Meskipun jarak membuat aku nampak kabur dari pandangannya. Mungkin, aku juga akan patah hati sesekali sebab melihatnya yang mudah menolong meski yang ia tolong adalah lawan jenis. Tidak apa-apa, aku akan mengatasinya sendiri. Sebab aku sendiri yang telah memutuskan untuk menaruh harapan tinggi kepadanya. Bagaimanapun caranya.





