
“Eh Han, udah siap wisuda nih?” tanyanya pada Rehan.
“Siap jadi pengangguran maksudnya, hahaha,” jawab Rehan dengan candaannya.
Aku pun ikut tersenyum mendengar percakapan mereka.
“Ini Mbak Nala kan ya?” tanyanya padaku.
Aku sedikit terkejut ketika dia menyadari kehadiranku karena memang kita tidak pernah terlibat percakapan apapun setelah insiden empat tahun yang lalu. Aku juga bukan termasuk mahasiswi yang aktif organisasi dan riwa-riwi sehingga banyak dikenali.
Artikel yang sesuai:
“Iya Mas,” ucapku sembari menahan sesuatu yang sedang bergejolak di tempatnya. Semoga saja dia tak menyadari semu merah yang mungkin saja mulai timbul di pipiku.
Dia hanya merespon ucapanku dengan senyumannya. Senyuman yang seolah memiliki makna tersendiri tapi aku tak mampu menangkap apa yang sedang ada di pikirannya saat ini.
Setelah itu kami bertiga berjalan bersama menuju ballroom tempat wisuda akan dilaksanakan. Ya, mungkin hari ini adalah hari terakhir aku bisa melihatnya secara langsung.
Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya, hanya saja aku sudah berusaha meyakinkan pada hatiku sendiri untuk tidak mengharapkan apapun dengan segala hal yang berhubungan dengan dia. Semua harus berjalan seperti saat sebelum aku pernah mengenalnya.
Setidaknya terima kasih telah hadir sebagai kenangan terindah. Wajahnya yang secerah bulan di kala purnama, suaranya yang indah, serta tutur katanya yang menenangkan, semua akan senantiasa tersimpan dalam ingatan.
Sederhananya, dia memang terlihat sangat sempurna dengan dirinya yang apa adanya. Namun sayangnya, dia serupa awan di kala kemarau. Bumi sangat menginginkannya, tapi sangat kecil kemungkinan sang awan akan datang untuk menemuinya.
Singkatnya, ini hanyalah tentang rasa yang tak terbalas oleh tuannya. Tentang aku yang mengagumi suaranya sejak pertama kali pertemuan kita. Dia adalah sosok lelaki yang telah mampu menawanku dalam pesonanya, sehingga aku terjebak dalam rasa yang tak tahu arahnya kemana.
Dia adalah sosok yang hanya bisa kucintai dalam diam, kupandang dari kejauhan, dan kusebut namanya dalam bait-bait doa di sepertiga malam.
Jika bisa aku bercerita, maka akan kuceritakan bagaimana aku yang biasa saja bisa jatuh hati pada sosoknya yang hampir sempurna. Namun, tampaknya kata-kata saja tidak akan cukup untuk melukiskan bagaimana rasa yang selama ini aku simpan dalam-dalam.
Cukuplah ini menjadi rahasia antara aku dan Tuhanku saja, karena semua akan terlihat jauh lebih baik ketika rasa ini tetap ada pada tempatnya.
Mungkin ini adalah ujung dari kisah antara aku dan dia. Tak berakhir indah tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa tak semua rasa harus sampai pada tuannya. Kini, tugasku hanyalah terus berjalan maju, melepaskan diri dari bayang-bayang dia dan segala kenangannya.
Penulis: @ainrryah






