
Aku pun teringat akan sosok Ibu, apa jadinya ia yang begitu tulus mencintaiku, malah mendapatkan umpatan kasar dan perilaku diriku yang tidak mempunyai hati? Aku yang ditinggalkan kekasih yang jelas-jelas bukan darah daging saja, rasanya ingin segera menghilang dari muka bumi ini. Ya, Tuhan. Aku menyesal. Ibu aku rindu. Aku ingin memelukmu. Aku ingin mengucapkan kata yang tak pantas engkau dengar dari anak durhaka ini.
Aku segera menoleh arah pintu, ketika ada seseorang yang mengetoknya. Dengan tertatih aku pun segera. Tatapan kami terkunci beberapa menit.
Lagi-lagi hatiku bertambah tercabik, ketika orang yang aku pikirkan perasaan-nya, kini tengah menatap nanar ke arahku. Tak berselang lama, Ibu tak sadarkan diri dengan wajahnya yang terlihat babak belur.
Aku segera memapah Ibu ke kamar dengan kekuatan yang tersisa.
Tak lama kemudian, Ibu pun terbangun dengan tersenyum samar. Ibu menangis karena tak bisa membelikan ponsel terbaru. Karena sewaktu di jalan, Ibu dirampok. Ibu sudah berusaha mengejar perampok itu. Hanya ingin aku tidak marah padanya.
Artikel yang sesuai:
“Tuhan. Terbuat dari apa hati, Ibuku? Hingga, ia begitu mementingkan diriku yang hina ini.” Aku pun segera memeluk erat tubuh Ibu yang terbaring lemah. Menyalurkan kehangatan yang tak pernah ia dapati.
“Maafkan, Laras. Laras, menyesal. Laras, sadar. Cinta Ibu itu lebih berharga dari segunung berlian sekalipun.”
Amanat:
Hargai kasih sayang Ibumu selagi ada. Jangan biarkan kehilangan yang menyadarkanmu apa itu artinya, kehadiran. Percayalah, kelemahan terbesar seorang anak akan ada ketika Ibu meninggalkan dunia tanpa aba-aba.
Penulis: Marni






