Cerpen – Terbuat dari Apa Hati Ibu by Marni

Cerpen - Terbuat dari Apa Hati Ibu? by Marni

“Kamu tega sekali sama Ibu, Laras! Lagian kemarin Ibu sudah membelikan kamu ponsel. Lalu, untuk apa kamu mau beli ponsel lagi?” Suara Ibu naik satu oktav. Terlihat sekali raut murka yang tak pernah ia pamerkan padaku.

“Ibu pelit! Katanya, Ibu sayang sama aku. Kalau sayang buktikan. Ponsel itu bukan buat aku. Tapi buat Aldi, pacar aku! Kalau aku nggak belikan dia ponsel, dia bakal putusin aku, Bu! Aku nggak mau kehilangan dia. Aku sayang dia!”

Aku pun segera menghampiri Ibu yang tengah menutup wajah dengan kedua tangan-nya. Sayup-sayup isakannya mulai terdengar lagi. Lagi dan lagi aku menepis rasa bersalah.

Aku mengurungkan diri untuk menenangkan Ibu. Ketika, mata ajaibku menemukan sebuah cincin emas yang terpahat di jari manisnya. Aku tersenyum kemenangan.

Aku pun meminta Ibu untuk menjual cincin itu, agar aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Ibu sempat menolak karena cincin itu peninggalan almarhum-Ayah. Dengan cibiran-cibiran pedas yang aku yakini mampu membuat hati Ibu goyah dan terluka, akhirnya Ibu mau menjual emas itu. Aku meminta Ibu menjual cincin itu di detik ini juga. Aku tidak peduli, jika Ibu harus berjalan kaki untuk menuju sebuah pasar yang lumayan jauh. Apalagi cuaca di luar tidak begitu bagus.

Sebelum Ibu melangkah pergi, Ibu berucap. “Laras, cinta kamu sama Aldi terlalu buta. Dia bukan orang yang sudah melahirkan kamu, Nak. Harusnya, kamu syukuri kasih sayang Ibu yang tidak akan berubah hanya karena waktu dan kesalahan. Ibu berjuang antara hidup dan mati, untuk kamu bisa hadir di dunia. Ibu tidak mengharapkan kamu berbalas budi. Tapi, setidaknya kamu bisa menghargai kasih sayang Ibu.”

Ucapan Ibu mampu membuat batinku berteriak histeris. Bukan marah karena Ibu berkata seperti itu. Sepertinya hati kecilku mulai nestapa dan merasa bersalah.

Aku mulai resah menunggu kepulangan Ibu. Sudah berjam-jam Ibu tak kunjung datang. Aku segera menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 21:21 WIB.

Hingga bunyi notifkasi WhatsApp mengalihkan atensiku. Aku mulai membaca sebuah pesan yang sangat singkat itu. Tak bisa tertutpi lagi. Mata dan hatiku memanas, kaki ini pun melemas hingga terduduk rapuh dengan napas yang sangat mencekat naluri. Aku mengacak rambut frustrasi. Aku mengumpat. Merasa menjadi perempuan terbodoh karena cinta.

Aku merasa dunia ini terlalu kejam untuk diriku yang begitu tulus mencintai Aldi. Namun, Aldi hanya memanfaatkan ketulusanku. Setelah ia  mendapatkan semua, dengan mudah ia meninggalkanku dengan perempuan yang lebih sempurna dari diriku.

Pernapasanku tak teratur, rasa sakit ini terus membuka lebar akan semua fakta. Aku kecewa dan membenci Aldi yang tiba-tiba meninggalkanku tanpa aba-aba.

Aku pun meringkuk dalam keheningan bersama angin malam yang begitu dingin. Tak terasa butiran bening meluncur deras menyapa kedua pipiku.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn