
Setelah mengatakannya, laki-laki itu mulai mengambil langkah untuk pergi. Ia beranjak dari sana bersama sisa-sisa ketabahan yang ada. Langkahnya cukup pelan, seolah mengatakan pada dunia bahwa ia hanya berbohong untuk tabah.
Di dalam dasar hatinya yang paling dalam, Mas Farhan merintih kesakitan. Maka dengan itu, dengan hati yang bergetar ia langitkan harap yang tidak pernah tersampaikan pada perempuan itu. “Dahayu, maaf karena saya harus mengorbankan perasaan kamu. Hanya ini yang dapat saya lakukan supaya kamu dapat hidup dengan baik.”
Sedangkan di tempatnya duduk, hati Dahayu menjerit. Sekarang telah kandas sempurna semua harapannya. Ia ingin berkata kepada semua orang bahwa batinnya terluka, tapi di titik ini, nyaris tidak ada satupun manusia yang bersedia mendengarkan ceritanya.
“Semoga kamu dapat menemukan hati yang tak menyakiti.” Hanya kalimat itu yang dapat ia tangkap dari pergerakan bibir Mas Farhan. Lalu saat punggung ringkih itu lenyap di balik pintu, air matanya mulai berjatuhan. Sampai mereka berlomba-lomba membasahi kemeja yang ia kenakan.
Semua apa yang dilihatnya mengabur. Persis seperti perasaan Mas Farhan yang kian menjauh darinya.
Artikel yang sesuai:
Orang-orang di sana nampaknya heran apa yang terjadi dengannya. Namun mereka semua memilih untuk diam. Tidak ada satupun yang mendekat. Sebab mereka tahu, menangis bisa menjadi salah satu cara untuk mengobati lukanya.
“Nggak apa-apa, Dahayu. Kamu akan baik-baik aja. Percaya, bahwa ini adalah yang terbaik untuk kamu. Semua pasti butuh proses. Perasaan ini adalah hak kamu sendiri.” Di saat dirinya kesusahan untuk meredakan isak tangisnya sendiri, Dahayu menyuarakan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Setidaknya harus ia masih berusaha untuk tangguh di saat Mas Farhan kembali membuatnya jatuh.
Tapi semakin ia berusaha keras untuk berhenti menangis, rasa sesak itu semakin menjadi-jadi. Sampai ia di buat kesulitan bernapas.
“Benar apa yang dikatakan Mas Farhan. Semuanya harus berhenti di sini meski aku sendiri harus mengorbankan perasaanku. Ini jelas lebih baik dari pada aku melihat Mas Farhan hancur karena perasaanku. Karena aku menyayanginya, maka akan aku coba untuk menghilangkannya.
Semuanya benar-benar selesai. Di sini. Di meja nomor 1. Aku berusaha untuk meninggalkan perasaan tak terbalasku di sini.”
Semakin malam, air mata Dahayu semakin deras membasahi pipi. Sementara angin yang berhembus lembut di luar sana, seolah berkata; biarkan yang terluka menikmati waktunya.
Penulis: Sri Cicik Nurita






