Cerpen – Meja Nomor Satu by Sri Cicik Nurita

Cerpen - Meja Nomor Satu by Sri Cicik Nurita

“Kamu nggak salah telah mencintai saya, Dahayu. Hanya saja, cara kamu untuk membuktikannya yang keliru. Dengan memposting foto saya tanpa izin, bukankah secara tidak langsung kamu telah memaksakan kehendakmu itu terlalu berlebihan? Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa kamu ini egois? Kamu egois dengan mengatakan kepada dunia bahwa saya adalah milik kamu di saat saya tidak pernah membenarkan hal itu.”

“Jadi aku harus bagaimana?” Pertanyaan itu terucapkan begitu saja. Dahayu menatap Mas Farhan dengan tatapan paling nanar yang ia punya selama ini. Supaya laki-laki itu, bahwa untuk bisa sampai di titik ini, ia berjalan dengan langkah kaki yang terseok-seok.

Mas Farhan mengulas senyum tipis. Sangat tipis sampai perempuan berambut panjang itu tidak menyadari bahwa itu adalah senyuman. “Terkadang, ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa kamu miliki meski kamu menyukainya. Kamu tidak harus berbuat apa-apa, kamu hanya perlu menghilangkan perasaan yang kamu punya untuk saya. Perlahan-lahan.” Kata laki-laki itu.

“Bagaimana cara untuk menghilangkan perasaan itu di saat kamu satu-satunya yang tidak ingin aku hilangkan?”

Mas Farhan terdiam. “Tolong benci saya.”

Saat langit semakin gelap, di saat itulah Mas Farhan bangkit Dengan seutas senyum teduh yang menenangkan. Tidak tahu kenapa, kedua pundaknya terasa lebih ringan dari pada tadi. Ada perasaan sesak sekaligus lega yang bercampur menjadi satu dalam hatinya.

Laki-laki itu akui, ia cukup sedih saat melihat mata Dahayu yang berkaca-kaca. Namun, semuanya harus berakhir di sini. Sebelum semuanya tak terkendali dan tidak bisa diatasi.

Perasaan perempuan itu harus ia paksa untuk berhenti di sini. Bukannya ia tak sudi membalasnya, hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa lewati batasnya. Supaya Dahayu tidak terluka terlalu dalam, dan dirinya juga.

“Tinggalkan saya dan berbahagialah,” Mas Farhan menunduk. Sementara Dahayu harus mendongak supaya dapat melihat mata jernih laki-laki itu. “Terima kasih karena telah mengatakan yang sebenarnya. Dan… saya juga minta maaf karena tidak bisa membalas perasaan kamu seperti yang kamu harapkan dari saya.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn