Cerpen – Langis by YH Harahap

Pertemuanku berikutnya dengan si mata kelam terjadi di kedai kopi dekat halte bus kota saat aku pulang kerja. Aku baru menyelesaikan pesanan saat si pemilik mata kelam memasuki kedai. Kami bersitatap sebentar saat berpapasan. Dan, ia kembali sempurna menyedot seluruh atensi yang aku punya.

Cerpen – Langis by YH Harahap

Aku memilih duduk di meja paling pojok agar mudah memperhatikan si pemilik mata kelam. Bersama aroma arabika aku mulai menelitinya, perawakannya juga sedikit gerak tubuhnya yang begitu serampangan. Tubuhnya jakung meski tak tegap, ia tampak kurus dengan kaos hitam yang kedodoran. Rambutnya dibiarkan berantakan, seperti tak terurus, ditambah dengan warna kulit coklat gelap habis dipanggang surya.

“Tak ada meja kosong, boleh saya duduk di sini?”

Aku terkesima sebentar, suaranya begitu berat, sarat lelah tapi aku justru terpikat. “Silakan!”

Ia menarik kursi dengan satu tangan, sedang tangan lainnya meletakkan sebungkus kretek di atas meja.

“Kita pernah bertemu.”

Aku mencerna kalimat itu, tak ada unsur tanya di sana artinya ia mengingat aku di pemakaman Prameswari.

“Pemakaman Prameswari,” lanjutnya melihat aku yang tak kunjung merespon.

Aku mengangguk kecil, ragu harus bereaksi bagaimana. Sejujurnya tanya tentang perannya dalam dunia Prameswari sudah gatal ingin keluar dari tenggorokan, tapi aku menahan diri demi sopan santun.

Pesanannya datang, dari aromanya arabika toraja, seperti pesananku.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn