
Aku masih ingat saat pertama kali melihatnya. Dia berada jauh dari penglihatanku. Namun, anehnya, aku masih bisa melihatnya dari jarak sejauh itu. Ajaib, bukan?
Sepanjang paruh kedua tahun 2017, aku menghabiskan jam istirahat hanya untuk berjalan melewati ruang kelasnya. Terus-menerus, dari hari ke hari.
Cerpen – Kemustahilan yang Kuharapkan by Nazla Faira
Setiap ke kantin, aku selalu meminta temanku untuk melewati kelasnya. Padahal, jalan itu cukup jauh dan memutar. Ya, aku melakukan itu hanya untuk bisa melihatnya. Lucu, kan?
Aku tidak sadar sudah bertindak sejauh itu, tetapi langkahku tidak pernah maju. Dengan kata lain, aku tidak pernah berani untuk menyatakan perasaan padanya.
Jakarta, 2018
Artikel yang sesuai:
Bulan berganti, tahun bertambah, tetapi perasaanku tidak kunjung sirna. Aku mulai berpikir untuk mengaguminya dalam diam. Alasannya? Bukankah sudah jelas?
Perasaan sepihak seperti ini mustahil untuk menjadi nyata. Jadi biarlah segalanya tetap pada tempatnya. Aku hanya perlu menyukai dia secukupnya.
Namun, ternyata yang aku takutkan terjadi. Pikiran dan isi hatiku berselisih. Aku terus meyakinkan hanya sebatas ini perasaanku untuknya. Akan tetapi, sialnya hatiku berkata sebaliknya.
Tahun ini aku sibuk menenangkan perasaan dan mencari makna hadirnya dalam hidupku. Sayangnya, hingga hari kelulusannya dari sekolah ini, aku tidak kunjung menemukan jawaban yang kucari.
Justru hatiku menjadi semakin gusar, nyaris tidak menemukan jalan keluar.






