
“Mara tahu jawaban seperti apa yang Ibu tunggu. Ibu mau Mara minta maaf, kan? Mara harus bilang kalau Mara salah udah buat Ayah berbeda tingkahnya pagi ini? Nggak akan, Bu. Ibu juga nggak perlu menghindar dan hanya melibatkan Ayah sepihak. Mara tahu, Ibu juga merasakan hal yang sama. Dan, Ibu pasti juga dengar percakapan Mara dengan Ayah. Mara tahu kalau Ibu juga akan terus hidup dalam penyangkalan. Mara tahu kalau–“
“Diam Mara!!” Ibu menyela sekaligus membentakku.
Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly
“Ibu nggak kerja karena Ayah yang suruh supaya Ibu jaga Mara, kan? Jangan merepotkan diri sendiri, Bu. Mara udah biasa sendiri. Kalau Ibu mau, Ibu boleh kerja, tinggalkan Mara. Silakan sibukkan diri kalian masing-masing sampai kalian puas dan merasa tenang. Mara ngerti kalau kalian nggak akan pernah bisa anggap kalau Abang udah nggak ada. Tentu, Mara akan berusaha mengerti posisi Ibu dan Ayah. Jadi …” Aku gagal menahan diri. Walau kata terus berucap, air mataku pun ikut jatuh, “Jadi, apa yang Mara bilang tadi pagi ke Ayah, adalah hal yang sama yang Mara sampaikan ke Ibu sekarang.”
“Kamu berlebihan,” Ibu bersuara datar.
Aku masih menggebu-gebu. Terlalu banyak yang aku emban seorang diri, sehingga bingung harus mulai dari mana percakapan tabu ini, semua terlihat berantakan, jadi aku hanya menyampaikan apa yang terlintas di hati dan pikiranku.
Artikel yang sesuai:
“Iya, Mara berlebihan. Mara terlalu merasa terasingkan, merasa terpojokkan. Dan juga, Mara terlalu sensitif mengenai Abang. Apalagi setiap makan bersama, kalian selalu menyiapkan lauk untuk abang, kalian harap Abang boleh kembali sebentar saja, lalu duduk makan bersama kita. Mara berlebihan? Iya, Bu. Karena Mara capek! Mara nggak tahu harus ngadu ke siapa. Anak kalian hanya abang. Ibu tahu, Mara selalu cari cara agar kalian perhatian sama Mara. Sampai di sekolah, Mara dibilang ‘tukang cari perhatian’ dan itu udah jadi kebiasaan Mara, Bu.”
Aku melihat air mata Ibu tertahan di pelupuk sana. Dia berusaha tenang, dan tak tergoyahkan. Percuma! Aku pasti sudah menyentuh daerah sensitifnya sehingga Ibu hanya kelu, tak bersuara, dan menahan air mata.






