Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Malam merangkak perlahan dalam diam. Rumahku sunyi. Aku tidak tahu ke mana perginya semua manusia yang menghuni tempat berukuran 4 x 6 meter ini, yang aku tahu mereka sibuk, selalu. Aku meringsut dari kasur kesukaanku, yang sudah berpindah tempat ke samping jendela karena merasa pengap terkurung di kamar. Sudut itu sudah menjadi tempat ternyamanku, walau Ayah berulang kali merayu agar aku kembali ke kamar, aku tetap menolak. Dan, akhirnya Ayah menyerah.

Aku melangkah pelan menuju dapur. Dengan sigap aku menuang air panas yang baru mendidih ke dalam bak mandi, sampai cermin di dinding jadi beruap dan tak menunjukkan eksistensiku. Aku meraih handuk, kemudian menggantungnya. Kutarik napas perlahan dan mencoba lebih tenang.

Air panas sudah, handuk sudah, pintu pun terkunci, berarti tak  ada yang tertinggal. Aku menanggalkan pakaian yang membalut tubuhku, tak kubiarkan sehelai benang pun melekat, lalu masuk ke dalam bak mandi yang beruap itu,  menenggelamkan tubuhku sebatas leher. Air mataku perlahan keluar, kulitku nyaris melepuh, tetapi aku tetap bertahan. Tidak ada setetes air dingin pun yang masuk ke dalam bak mandi itu, hanya air panas yang berliter-liter bersama dengan lepuhan kulitku.

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Aku tidak tahu pasti hal ini sudah berapa kali kulakukan, dan entah ini yang ke-berapa. Telapak kakiku mulai mengerut, lenganku mati rasa, kulit ari bagian perutku terkelupas, namun aku tak hendak keluar dari air mendidih itu. Aku hanya ingin tenang, dan membiarkan diriku bersedih bersama dengan air panas yang sudah menemaniku sepuluh menit.

Air mataku semakin deras, antara kepanasan, sakit menahan didihan air, dan menahan amarah, luka, kekecewaan, aku tidak tahu. Saat ini, tak ada satu perasaan pun yang mampu aku rasakan selain semua sudah teraduk dalam jiwa yang sama.

Uap panas mulai meluber ke segala penjuru kamar mandi, dan kupikir airnya pun mulai mendingin. Aku pun menenggelamkan wajahku, dan ternyata salah, air ini masih saja panas. Maka, kutahan lagi. Aku tak ingin keluar melihat dunia, mencicipi kehidupan, dan bergulat dengan tanya ‘seperti apa seharusnya manusia dilahirkan?’.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *