
“Aku tahu kalian sayang sama Abang. Aku juga sayang Abang, Ayah. Tapi penyangkalan yang kalian buat, seakan menerjang Mara untuk terlempar sejauh mungkin. Mara yang di samping Ayah dan Ibu sekarang, tapi kabar Abang yang selalu kalian tanya. Tiga tahun kita hidup setelah perginya Abang, nggak sekali pun Mara merasa punya orang tua. Kalian menghilangkan frustasi soal kepergian Abang dengan menyibukkan diri. Mara sendiri, Ayah. Mara nggak punya siapapun. Kalau ada pilihan lain, Mara akan pilih, biar Mara yang pergi agar Abang tetap tinggal sama kalian.”
Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly
Ayah tak bersuara. Dia hanya menatap lurus ke depan. Aku tidak peduli dengan amarahnya setelah ini, aku hendak menuntaskan semuanya saat ini.
“Mara hanya mau dianggap ada, Ayah. Juga mau ditanya kabarnya oleh Ayah dan Ibu. Tapi mungkin nggak bisa ya, Yah, ksarena opsi pertama kalian sudah pergi. Nggak apa-apa, Yah. Mara turut sedih dengan rasa kehilangan Ayah dan Ibu, tahu persis kalian terpukul,” aku menuntaskan air mataku, “Mara ngantuk, Yah, mau tidur duluan.” Aku menarik selimut, kemudian berbalik badan membelakangi Ayah. Aku kehujanan, air mata ini terlalu deras, bahkan mungkin mengalahi Niagara.
“Mara …”
“Tidurlah, Ayah. Besok Ayah harus kerja, kan.”
Artikel yang sesuai:
Matahari mulai naik. Sinarnya menghambur ke wajahku melalui celah jendela. Aku mendengar deru motor dan mobil sedang berlomba, bersahut-sahutan dengan suara anak kecil yang bersemangat untuk ke sekolah.
Rumahku terlihat sepi. Perabotan di dalamnya sudah berbulan-bulan tak dibersihkan. Yang menjadi fokus utama Ayah dan Ibu hanya kamar mereka sendiri. Dapur pun sudah jarang disentuh. Aku beranjak dari kasur menuju dapur hendak meneguk segelas air,
“Ibu?” Aku terperanjat karena ternyata Ibu masih di rumah. “Ibu nggak kerja?”
“Ayah minta Ibu nggak usah kerja dulu buat jaga kamu,” jawab Ibu sambil memasak telur mata sapi.
Aku mengangguk sambil meraih tempat duduk. Jadi karena disuruh Ayah? Bukan karena Mara anak Ibu, dan bukan karena Ibu sayang sama Mara? Kalau lah aku punya keberanian sedikit lebih banyak, aku akan mengatakan kalau lebih baik Ibu berangkat kerja saja. Ibu tidak perlu sampai merepotkan diri sendiri untuk menjagaku.






