Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Bak mandi itu seperti memeluk tubuhku yang tak bertenaga, merangkul jiwaku yang sudah tak punya kekuatan lagi untuk bertahan. Aku berteriak di dalam riak air yang dangkal, pipiku mulai melepuh. Kini seluruh tubuhku tak mampu merasakan apapun lagi, aku kehilangan segalanya, termasuk indera perasa. Lebih baik demikian karena tak ada gunanya lagi merasakan apapun dalam hidupku.

Bukankah hidup dalam kehampaan lebih terasa menyenangkan? Dengan air mendidih yang sedari tadi menyelimutiku, justru aku bisa menemukan warna, sedikit lebih baik, karena berwarna cerah, merah.

Aku tertidur pulas dalam bak mandi itu. Seluruh tubuhku melepuh dan bersimbah cairan merah. Pangkal paha hingga ujung kakiku mulai memar. Tidak lama setelah itu sayup-sayup kudengar suara Ayah dan Ibu berteriak histeris. Mereka langsung mengangkatku.

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Ibu meraih handuk dan menutupi tubuhku. Pakaian Ayah basah dan terkena cairan merah yang terus keluar dari tubuhku. Tangan Ayah terasa dingin, dan aku mendengar suara Ibu lirih memanggil namaku. Mataku sulit terbuka. Kenapa harus dikeluarkan dari tempat nyaman itu? Kini tubuhku terasa perih. Bagian perutku yang terkelupas terkena semilir angin, aku merintih dalam keadaan mata tertutup.

“Mara ….” Ibu memanggilku sekali lagi sambil terus menangis.

“Kamu sudah telepon dokter?” tanya Ayah pada Ibu kemudian membungkusku dengan selimut. Ayah bahkan mengambil selimut dari kamarnya.

Aku merasa kesakitan karena luka bakar di sekujur tubuhku. Air mataku terus menerjang keluar. Aku tidak tahu apakah itu karena Ayah tak menyadari lukaku dan sebebasnya menyelimutiku, sehingga luka itu terasa lebih perih, atau memang aku tak ingin mereka peduli padaku. Aku benar-benar kehilangan kendali atas apa yang sedang terjadi. Perasaanku tidak bisa mengukur sesuatu dengan baik lagi, aku dibutakan oleh air mata.

“Mara, kamu dengar Ibu?” Ibu memegang pipiku dan terus menangis. Air matanya jatuh ke bibirku. Untuk pertama kalinya setelah hari itu aku merasakan air mata Ibu. Asin.

“Berapa lama lagi dokternya datang?” Ayah bertanya sedikit lebih tegas.

“Sudah di depan. Bukakan pintu!” ujar Ibu sambil terus mengelus kepalaku.

Mengapa harus dokter, Ayah, Ibu? Mengapa bukan kalian yang memeriksaku? Maksudku, menanyai  kabarku dan secepat mungkin mengobatiku dengan kasih sayang kalian. Aku tak perlu dokter. Aku pun tak tahu siapa yang kuperlukan saat ini.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn