Cerpen – Jalan Takdir by Nandang Setiawan

Cerpen Jalan Takdir

Aku menyusuri jalanan yang begitu sepi, hanya beberapa kendaraan bermotor yang melintas. Penerangan sedikit temaram, tetapi terlihat jelas ruko dan kafe yang menjulang tinggi. Beberapa kafe masih buka.

Banyak muda mudi sepertiku sedang asyik menikmati masa mudanya. Tak sengaja aku melihat selembar poster yang berisi lowongan pekerjaan. Sepertinya kafe ini masih membutuhkan karyawan.

Cerpen – Jalan Takdir by Nandang Setiawan

‘Aku akan kembali besok,’ batinku.

Tak ada yang tahu dengan apa yang akan dihadapi besok. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Aku tahu semesta tak akan membiarkanku jatuh dan terluka. Semua ada makna dalam proses yang aku jalani.

Aku berbaring, menerawang jauh akan nasib yang aku alami. Saat orang-orang seusiaku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, aku sibuk dengan lamaran kerja yang tak kunjung selesai. Rutinitas yang sering aku lakukan hingga tertidur.

Pagi buta aku sudah sibuk dengan bersih-bersih. Kemudian menyiapkan sarapan untuk bibi dan paman. Kelebihan aku salah satunya adalah pandai memasak. Jadi setidaknya aku bisa membantu mereka dengan keahlian ini.

“Bi, hari ini Damar mau kembali mencari kerja. Kemarin nggak sengaja lihat info loker. Doain ya bi, semoga keterima,” ucapku.

Terukir sebuah senyuman lembut yang membuat semangatku semakin bertambah. Andai saja ibu ada di sini, pasti semangatku semakin meningkat. Dengan hati gembira dan rasa optimis yang melekat, aku melangkah menuju kafe semalam.

Ternyata kafe tersebut sudah buka. Jadi aku tidak perlu menunggu. Kemeja putih, celana hitam, serta sepatu lusuh kembali menemaniku melamar pekerjaan.

“Permisi, Kak, maaf mengganggu waktunya. Saya melihat lowongan pekerjaan di poster ini. Apakah masih ada?” tanyaku.

“Kebetulan sekali, kami masih membutuhkan satu karyawan lagi. Silahkan masuk ke ruangan saya untuk beberapa hal yang harus diurus.”
***

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn