
Dara keluar dari kamar bertepatan dengan Erlan dan Baron.
“Loh, Dara?” ucap Erlan dan Baron bersamaan.
“Erlan? Baron?” ucap Dara seolah-olah tak percaya dengan yang Dara lihat sekarang.
Suara itu masih cukup mengganggu mereka. Ketukan yang kian lama semakin keras. Pandangan Dara beralih ke meja yang berada di ruang tamu. Erlan dan Baron ikut melihat ke arah yang dituju Dara. Satupun tak ada orang di bawah. Baron menelan salivanya dalam-dalam.
Langsung saja Baron menepuk pelan pundak Erlan dan memberikan isyrat untuk keduanya masuk ke dalam kamar.
Artikel yang sesuai:
“Siapa, Dar?” tanya Asya.
“Enggak ada siapa-siapa.”
“Maksud lo … hantu?” tanya Asya begitu hati-hati.
“Mungkin.”
Bertepatan dengan itu. Lampu di kamar berkedip dengan sendirinya. Persis seperti lampu saat di meja makan tadi.
“Gin, lampu kamar lo rusak juga?” Bukannya apa-apa, Dara hanya ingin berpikir positif. Jika ketakutan lebih mendominasi dirinya, maka ia tidak bisa berpikir dengan tenang.
Gina menggeleng pelan. Sejujurnya tidak ada lampu yang rusak. Gina hanya tak ingin sahabatnya merasa takut. Ketiga perempuan itu menatap satu sama lain. Pintu yang terbuka dengan sendirinya berhasil menambah ketakutan pada diri mereka. Jika sudah begini, mereka tidak akan bisa berpikir positif.
Dara menggenggam erat tangan kedua sahabatnya. Di sisi kirinya, Asya sudah menangis. Berbeda dengan Gina yang berada di sisi kanannya. Gadis itu menatap kosong ke arah depan. Dara bahkan tidak mengetahui tatapan kosong Gina. Namun, tangannya yang ditepis kasar oleh Gina, berhasil membuat Dara terperanjat kaget. Setelahnya, Gina langsung keluar dari kamar tersebut.






