
“Hati-hati loh… Nanti yang ada kamu bisa jatuh cinta sama orang yang kamu benci,” ledek Cici.
”Hmmm, terserah deh. Ledekanmu gak mempan di aku,” Afifah pergi dari hadapan Cici.
Di hari yang sama seperti waktu itu. Afifah kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang waktu itu sempat membuat tangan dia terluka. Afifah dan Davin bertemu di toko kue AFIFAH CAKE. Dafin tak mengetahui jika toko itu adalah toko milik gadis yang ia tabrak waktu itu—Afifah.
”Mbak, saya mau antar kue,” ucap Afifah pada salah satu pelayan toko.
“Lo? Kok lo disini? Oh, mau nganterin kue toh ternyata,” ucap Davin sambil mengangkat satu alis.
”He, cowok songog! Yang ada gue yang harusnya tanya sama lo! Ngapain lo disini,” saut Afifah dengan membusungkan dada.
Artikel yang sesuai:
”Lo, gak lihat apa, ini toko kue!”
“Tau. Anak tk pun juga tahu kalau ini toko kue.”
”Ya berarti gue kesini mau beli kue!”
“Oh, mau beli kue… Mbak, kasih kue yang basi aja,” pinta Afifah pada pelayannya.
”Wah, mau cari gara-gara sama gue rupanya. Gue panggilin pemilik toko kue ini biar lo dapat teguran,” ucap Davin sambil menunjuk ke arah muka Afifah.
”Bilang aja. Gue gak takut sama pemilim toko kue ini. Yang ada, kamu yang kena teguran gak boleh beli kue disini lagi,” ucap Afifah dengan percaya diri.
”Maaf, Mas. Mbak ini adalah pemilik toko kue ini. Dia adalah Bosnya, Mas,” ucap salah satu pelayan.
”Tuh! Dengerin. Gue yang punya toko kue ini.”
Davino terdiam. Terlintas dipikirkannya kalau cewek di depannya harus jadi ke kasihnya. Bagaimana pun caranya gadis itu harus jatuh kepelukannya. Davino berdiri dengan sigap, lalu ia mengulurkan tangannya pertanda ingin kenalan.
“Oh, ternyata toko kue ini milik lo. Kenalin gue Davino Basayaef.”
“Hmmm, Afifah,” balas Afifah tanpa membalas jabatan tangan Davino.
Dengan raut wajah cemberut, Davino menurunkan tangannya dan ia berniat mengajak wanita yang baru ia kenal itu, makan di srbuah restoran. Dan untuk pertama kalinya Afifah meng-iya kan ajakan Davino.
“Kalau gue ajak makan bareng mau gak?”
”Mmmm, boleh aja.”
”Asik,” lirih Davin sambil memanglingkan badan dan mengepal tangganya.
“Kenapa?” tanya Afifah.
”Eee-enggak kok gapapa. yaudah yuk, kita langsung jalan.”
”Yaudah, duluan,” pinta Afifah sambil menganggukan kepala.
Davino berjalan kebih dulu dan Afifah Berada di belakangnya. Mereka menaiki mobil bewarna silver. Davino memperlakukan Afifah bak tuan putri. Bagaimana tidak, Davino membelikan makanan yang super mahal untuk Afifah. Dengan harapan Afifah lah yang akan banyar semua makanan yang ia pesan dan Afifah mau menerima cinta Davino.






