
Jam 06.15, kami kembali. Meninggalkan apa yang telah terjadi pagi ini di gubuk tua tadi. Aku berharap bisa meninggalkan perasaanku yang tak terbalas di sana. Di sapu angin yang entah akan membawanya berlabuh pada hati siapa.
Pagi yang sendu telah selesai kami habiskan. Tanpa percakapan, aku dan Dahayu memutuskan untuk pulang.
Selesai. Semuanya selesai ketika kalimat yang terucap dari Dahayu memenuhi pikiranku.
“Kalau Mas Rasyid beneran jodoh kamu, dia nggak akan kemana-mana. Kalau perlahan-lahan kamu mulai ngerasa jauh sama dia, berarti kamu bukan jodohnya.”
Habis. Tak tersisa. Bagaimana aku bisa berharap memilikinya, di saat Tuhan telah menentukan bahwa bahagianya bukan bersamaku? Bahwa aku bukan jodohnya?
Artikel yang sesuai:
Penulis: Sri Cicik Nurita





