Ketika Penulis Harus Menghadapi Persoalan Rendahnya Minat Baca

Ketika Penulis Harus Menghadapi Persoalan Rendahnya Minat Baca

Ketika saya membaca koran Kompas kemarin pagi, ada satu informasi yang cukup membuat saya merenung beberapa saat. Informasi tersebut mengenai rendahnya minat baca di kalangan penduduk Indonesia.

Data dari UNESCO di tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Artinya hanya 1 dari 1.000 orang yang memiliki minat baca tinggi.

Dengan situasi seperti itu, tentu saja menjadi tantangan tersendiri untuk para penulis. Sebab, penulis membutuhkan pembaca untuk membaca karya-karya mereka. Bagaimana sebenarnya situasi tersebut terjadi dan langkah apa yang bisa dilakukan oleh seorang penulis untuk menyikapinya?

Ketika Penulis Harus Menghadapi Persoalan Rendahnya Minat Baca

Ada beberapa alasan menurut saya yang menyebabkan minat baca warga Indonesia rendah. Hal ini terjadi karena berbagai faktor yang saling berkaitan.

Pertama adalah fenomena global yang terjadi di dunia, ketika rentang perhatian (attention span) seseorang semakin turun ke angka 8 detik. Rentang perhatian adalah jumlah waktu bagi seseorang untuk berkonsentrasi sebelum perhatiannya teralihkan.

Contoh dari hal ini dan kaitannya dengan membaca adalah ketika seseorang menemukan suatu bacaan yang menarik di media, kemudian dia teralihkan oleh notifikasi di ponselnya. Nah, waktu yang dimiliki seorang penulis untuk menarik perhatian pembaca dengan demikian sangatlah pendek. Hanya delapan detik!

Penyebab kedua kenapa minat baca warga rendah adalah karena kemajuan teknologi. Saat ini setiap orang mengakses informasi, termasuk bacaan melalui telepon genggamnya.

Sementara itu, membaca adalah suatu aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Di sisi lain, telepon genggam adalah pengganggu konsentrasi nomor satu.

Dengan banyaknya hal menarik yang ditawarkan oleh telepon genggam termasuk bermacam notifikasi, permainan atau gim, hingga bermacam aplikasi, maka sangat sulit bagi seseorang untuk berkonsentrasi ketika membaca di telepon genggam. Faktor ini pula mungkin yang menyebabkan rentang perhatian para pembaca semakin melorot ke angka 8 detik tadi.

Penyebab ketiga rendahnya minat baca adalah karena bacaan tidak disajikan dengan format yang menarik. Di generasi yang semakin visual, maka melihat layar yang penuh dengan tulisan bisa menjadi pengalaman yang menakutkan.

Barangkali para penulis perlu melihat format-format yang saat ini digandrungi oleh para pengguna internet dan telepon genggam. Mungkin mereka bisa mengubah materi tulisannya menjadi suatu produk lain untuk menarik minat calon pembaca.

Format tersebut misalnya seorang penulis membuat konten carousel, reels, atau video di Instagram yang berisi berbagai hal menarik dari tulisan atau bukunya. Kemudian dia membagikan informasi bacaan hasil karyanya di media sosial, seperti Facebook, YouTube, dan lain-lain.

Tak ketinggalan, karena saat ini banyak orang yang lebih suka mendengarkan ketimbang membaca, maka para penulis pun bisa membuat rekaman suara dari hasil tulisannya dan menerbitkannya menjadi sebuah Podcast agar bisa dinikmati oleh banyak orang. Dan, tak lupa dengan merebaknya penggunaan TikTok, kenapa para penulis tidak mencoba hal ini juga?

Mungkin itu beberapa hal yang bisa penulis lakukan untuk menyikapi fenomena rendahnya minat baca di Indonesia. Selain itu, bagi para penulis atau calon penulis yang ingin memengaruhi masyarakat luas, maka bisa juga menulis di media online yang ternama.

Dengan melakukan hal itu, maka hasil tulisannya pun bisa dibaca lebih banyak orang. Selain itu, nama penulis itu sendiri akan lebih dikenal oleh masyarakat. Berita bagusnya lagi, menulis di media online bisa menjadi ajang untuk personal branding seorang penulis yang seringkali bisa diajak menjadi pembicara di berbagai acara.

Lebih untung lagi saat ini karena beberapa media, termasuk di Detak Pustaka ini pun memberikan penghargaan yang menyenangkan kepada para penulisnya. Jika Anda ingin belajar untuk menjadi seorang penulis di media online, jangan khawatir, karena Detak Pustaka memiliki kelasnya di sini: Daftar Kelas Menulis Artikel di Media Online.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *